Jogja

Setahun Program MBG, Ahli Gizi UGM Soroti Penggunaan Bahan Baku Olahan yang Tak Sehat

M. Mubin Wibawa | 9 Januari 2026, 07:22 WIB
Setahun Program MBG, Ahli Gizi UGM Soroti Penggunaan Bahan Baku Olahan yang Tak Sehat

Akurat.co,Jogja-Ahli gizi UGM menyoroti penggunaan ultra processed food (UPF) atau makanan olahan yang sudah melewati banyak proses industri dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program yang seharusnya menyediakan makanan bergizi malah banyak menggunakan bahan baku olahan yang justru tak sehat.

Penggunaan produk tersebut bertentangan dengan kampanye Kementerian Kesehatan tentang pengurangan gula, garam, dan lemak.

Baca Juga: Sultan: Lumbung Mataraman Siap Pasok Bahan Baku MBG

“Anak-anak diberi UPF, di situ ada natrium, gula tambahan, dan lemak. Dampaknya mungkin tidak terlihat sekarang, tapi 10–15 tahun ke depan akan menjadi bom waktu penyakit kronis,” ujar Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih.

Dosen Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM ini menyebut, semestinya program lebih banyak menggunakan bahan pangan lokal yang sangat beragam yang tidak kalah dengan kualitas impor.

Menurutnya pemanfaatan produk pangan lokal malah bisa menjadi solusi mengurangi risiko makanan yang tidak cocok dengan kondisi tubuh anak di setiap daerah.

"Papua tidak bisa disamakan dengan Jawa atau Sumatra. Bahan pangan pokoknya berbeda. Kalau semua diseragamkan dengan UPF, itu justru tidak pas dengan konteks lokal,” tuturnya.

Di sisi lain, Mirza juga menyampaikan terkait keracunan massal yang terjadi.

Keracunan bisa diatasi dengan pemberian tanggung jawab kepada sekolah untuk menyediakan makan siang bagi para siswanya.

Dengan demikian sekolah bisa sekaligus memberikan pengawasan karena cakupan yang lebih kecil, kondisi siswa, dan bahan pangan lokal yang sering digunakan.

“Jadi kesalahan dalam distribusi makan, kesalahan dalam keamanan pangan itu bisa terminimalisir,” ucapnya.

Baca Juga: Anggaran dari BGN Tidak Cair, Program MBG di Gunungkidul Dihentikan

Secara keseluruhan Mirza menganggap program ini memiliki tujuan yang sangat bagus dan mulia yakni mencetak generasi masa depan dalam rangka menuju Indonesia emas 2045.

“Terlepas dari agenda politik, program school lunch ini sudah diterapkan di berbagai dunia yang mana merupakan agenda yang memang wajib bagi negara terhadap warga negaranya”, ungkapnya dilansir dari laman resmi UGM, Jumat (9/1/2026).

Mirza menegaskan keberhasilan program MBG tidak bisa diukur dalam waktu yang singkat.

Mirza menyebutkan bahwa dampak investasi gizi baru bisa terlihat setelah satu siklus pendidikan, sekitar 10-15 tahun mendatang.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.