Jogja

RI Peringkat Ketiga Kasus Pornografi Daring Dunia, Dosen UGM Soroti Dampak Buruk AI

M. Mubin Wibawa | 12 Januari 2026, 13:05 WIB
RI Peringkat Ketiga Kasus Pornografi Daring Dunia, Dosen UGM Soroti Dampak Buruk AI

Akurat.co,Jogja-Laporan 2024 mencatat Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan 1.450.403 kasus pornografi online.

Menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus pornografi daring terbesar.

Menurut akademisi UGM, Ratna Noviani, Ph.D., salah satu pemicu maraknya kasus pornografi adalah perkembangan teknologi melalui kecerdasan buatan atau AI.

Baca Juga: 14 Juta Pekerja Indonesia Digaji di Bawah UMP, Dosen UGM: Bukti Minimnya Lapangan Kerja

Terkait penggunaan kecerdasan buatan dengan manipulasi konten yang semakin marak, Ratna menilai hal ini sebagai evolusi budaya mengintip.

Ia mengamati adanya relasi kuasa berbasis gender yang timpang. Menurutnya, perempuan sejak dahulu diposisikan dengan logika male gaze atau sebagai objek tatapan, objek seksual, dan objek tontonan untuk kesenangan laki-laki.

“Praktik morphing tidak mengubah logika male gaze ini, ia memperhalus dan melanggengkannya dalam bentuk visual digital yang semakin rapi, realistis, dan invasif.” jelasnya.

Lebih lanjut, Ketua Program Magister Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM ini memaparkan temuannya bahwa teknologi digital dan AI sendiri tidak netral.

Teknologi dibangun dari data, desain, dan imajinasi sosial yang juga bias maskulin. Bahkan dalam praktik sehari-hari, AI assistant sering digenderisasi sebagai feminin, dengan nama, suara, dan karakter yang merepresentasikan kepatuhan dan pelayanan.

“Hal ini menunjukkan bahwa logika teknologi itu sendiri telah lama mereproduksi posisi perempuan sebagai objek.

Oleh karena itu, kekerasan visual digital seperti morphing tidak sekadar evolusi dari voyeurisme, tetapi kelanjutan dari problem struktural yang sama," jelasnya.

Dalam upaya memutus rantai ini, Ratna mengemukakan solusi agar pengguna di media digital dapat membangun kesadaran kolektif.

Ia menuturkan, masyarakat harus menyadari bahwa tindakan menyukai, mengomentari, atau membagikan konten manipulasi AI dapat menjadikan seseorang sebagai pelaku sekunder.

Baca Juga: Tren Micro Tourism Meningkat, Pakar UGM Ungkap Penyebabnya

Ia pun meminta masyarakat agar lebih kritis dan cerdas untuk tidak menyebarkan informasi palsu tersebut.

“Membangun kesadaran kolektif berarti menggeser posisi kita, dari penonton pasif menjadi bagian aktif dari solusi.

Kita perlu bersama-sama menjadi pengguna teknologi digital dan AI yang kritis, yang sadar bahwa setiap klik, like, dan share punya konsekuensi etis dan politis," jelasnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.