Jogja

Sagon Gulung Sanden Bantul, Gunakan Anglo dan Kayu Bakar Hasilkan Cita Rasa Khas

Haris Ma'ani | 15 Oktober 2026, 11:03 WIB
Sagon Gulung Sanden Bantul, Gunakan Anglo dan Kayu Bakar Hasilkan Cita Rasa Khas
Proses pembuatan sagon gulung masih menggunakan anglo dan kayu bakar. -foto: pemkab bantul

Akurat.co,Jogja-Kuliner tradisional asal Jogja turut menjaga eksistensinya di tengah serbuan jajanan modern. Salah satunya adalah sagon.

Salah satu pembuat kue sagon, Muryati asal Wonorejo, Gadingsari, Sanden, Bantul, bahkan mempertahankan cara tradisional untuk membuatnya.

Ia masih mengandalkan anglo dan kayu bakar untuk membuat kulit sagon.

Baca Juga: Kulineran Apem Kelapa Muda Bu Maryati Kalasan yang Uenak, Wajib Coba Nih

"Ini proses yang paling sulit. Tidak boleh terlalu lama, tidak boleh terlalu cepat,” ujar Muryati menceritakan proses pembuatan kulit sagonnya.

Dikatakan sulit karena tidak ada patokan waktu tertentu kapan adonan kulit sagon perlu dibalik dan dikatakan matang.

Kendati sulit, Muryati tetap mempertahankan cara tradisional ini.

Selain unik, cara ini disinyalir bisa menjaga keawetan sagon lebih lama.

“Dulu pernah coba pakai teflon, pakai kompor. Tapi teksturnya berbeda. Kematangannya berbeda. Sagon lebih tahan lama dimasak dengan anglo dan kayu bakar,” tutur Muryati dikutip dari laman resmi Pemkab Bantul.

Kesulitan proses membuat kulit sagon ini juga diakui Vikdal,yang biasanya membantu membuat sagon gulung.

Dirinya pernah mencoba, tapi belum berhasil. Vikdal meyakini keahlian Muryati dalam membuat sagon gulung ini karena tangan Muryati telah terlatih bertahun-tahun.

Usaha sejak 1997, penjualan ribuan saat Covid

Usaha pembutan sagon yang dikerjakan Muryati sudah digeluti sejak tahun 1997.

Usahanya sempat mengalami masa penjualan paling laris saat pandemi Covid. Ribuan sagon dipesan pelanggan saat itu.

Meski saat ini penjualannya tak seperti semasa Covid, ia terus melanjutkan bisnis sagon gulung dengan jenama Sagon Gulung Makmur walau tidak seperti dulu.

Muryati memproduksi sagon gulung dua hingga tiga kali dalam sepekan.

Sekali produksi, Muryati membutuhkan 5 kilogram bahan baku berupa kelapa muda, tepung beras ketan, dan gula jawa.

Dari 5 kilogram adonan ini, dihasilkan 250 sagon yang dibanderol Rp2.000 per biji.

Hasil akhir sagon buatan Muryati juga berbeda dengan sagon lain.

Jika pada umumnya sagon berbentuk lingkaran pipih atau setengah pipih, sagon gulung Muryati berbentuk silinder dengan panjang mirip seperti lemper.

Baca Juga: Alasan Kenapa Kuliner Khas Jogja Ini Dinamakan Serabi Kocor

Untuk penjualan, Sagon Gulung Makmur bisa ditemui di Pasar Celep atau di warung-warung sekitar Wonorejo.

“Dipasarkan di sekitar sini saja. Kadang-kadang ada pesanan juga,” ujar Muryati.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.