Jogja

Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Bandang Sumatera, Pembukaan Lahan Hutan Ikut Disorot

M. Mubin Wibawa | 8 Desember 2025, 08:05 WIB
Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Bandang Sumatera, Pembukaan Lahan Hutan Ikut Disorot

Akurat.co,Jogja-Dosen dan peneliti Fakultas Kehutanan UGM, Dr.Ir.Hatma Suryatmojo mengungkap penyebab banjir bandang yang melanda Sumatera.

Ia juga menyoroti kondisi ekologis yang menurun. Pembukaan lahan di daerah hulu, permukiman yang merangkak naik ke dataran tinggi, serta perubahan fungsi hutan memperbesar limpasan permukaan.

"Ketika hutan hilang, kemampuan tanah menahan air ikut runtuh dan debit puncak tak lagi dapat dikendalikan," katanya dikutip dari laman resmi UGM.

“Para pihak yang menjadi kontributor dosa ekologis itu sudah saatnya berhenti,” imbuhnya.

Baca Juga: Pakar UMY Ungkap Penyebab Banjir Sumatera yang Renggut Ratusan Korban Jiwa, Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem

Lebih jauh Hatma menjelaskan, secara alami hutan memiliki kemampuan besar untuk menahan air hujan.

Bahkan dalam kondisi ideal, hingga sepertiga air dapat tertahan di tajuk dan lebih dari separuh meresap ke dalam tanah sebelum mencapai permukaan.

Ketika tutupan hutan berkurang, seluruh volume air bergerak serentak menuju sungai dan mempercepat terjadinya banjir.

“Neraca airnya pasti berubah dan debit puncaknya meningkat drastis,” tegasnya.

Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, menambahkan bahwa perubahan iklim memperbesar risiko yang sudah tinggi secara alami.

Kenaikan suhu global 1,55°C membuat kejadian hujan ekstrem semakin sering, dan prediksi menunjukkan peningkatan dapat mencapai 3,5°C pada akhir abad bila tidak ditekan.

Dengan curah hujan setinggi ratusan milimeter per hari, sistem hidrologi di Sumatera tidak mampu lagi meredam laju air.

Baca Juga: Cerita Kiper PSS Sleman Muhammad Fahri Rasakan Dampak Banjir Aceh

“Kalau mitigasi ekologinya dilewatkan, kita bisa musnah,” ujar Dwikorita.

Dwikorita juga menilai struktur geologi Sumatera membuat wilayah ini sangat labil.

Batuan yang terbentuk dari tumbukan lempeng naik dari dasar laut dalam kondisi retak-retak sehingga mudah longsor saat diguncang gempa kecil.

Longsoran inilah yang kemudian menyumbat aliran sungai dan membentuk bendungan alami yang sewaktu-waktu dapat jebol.

“Retakan-retakan itu membuat wilayah ini sangat rentan terhadap gerakan tanah,” katanya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.