Pakar UMY Ungkap Penyebab Banjir Sumatera yang Renggut Ratusan Korban Jiwa, Bukan Sekadar Cuaca Ekstrem

Akurat.co,Jogja-Pakar Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jazaul Ikhsan, mengungkap penyebab banjir bandang di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Menurutnya, banjir yang merenggut lebih dari 600 korban jiwa ini, bukan hanya disebabkan cuaca ekstrem semata.
Ia menegaskan, banjir yang terjadi hampir serentak ini merupakan hasil kombinasi antara cuaca ekstrem dan campur tangan manusia melalui tata ruang yang tidak adaptif.
“Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu awal, tetapi kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), sistem drainase yang tidak memadai, serta alih fungsi lahan memperparah dampaknya,” jelasnya.
Baca Juga: Mendagri Instruksikan Pemda Siaga Bencana dan Nataru 2026
Ikhsan menyebut beberapa indikator teknis menunjukkan bahwa infrastruktur pengendali banjir tidak lagi relevan dengan kondisi iklim saat ini.
Banyak sistem drainase memiliki kapasitas aliran yang jauh lebih kecil dibandingkan curah hujan aktual.
Sedimentasi, penumpukan sampah, serta desain infrastruktur yang masih mengacu pada data historis membuat air meluap dan menggenangi permukiman.
Kerusakan lingkungan
Dikutip dari laman resmi UMY, selain faktor teknis, kerusakan lingkungan menjadi variabel paling mengkhawatirkan.
Konversi hutan menjadi permukiman dan perkebunan menyebabkan hilangnya area resapan air alami.
“Penebangan hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Akibatnya aliran permukaan meningkat cepat menuju hilir dan memicu banjir serta longsor,” tegasnya.
Jika pola ini terus berulang setiap musim hujan, dampaknya diprediksi semakin serius.
Secara ekologis, banjir berulang dapat merusak ekosistem, menurunkan kualitas tanah, serta mencemari air sungai maupun tanah akibat limpasan limbah dan bahan kimia.
Baca Juga: Bantul Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi, Keselamatan Warga jadi Prioritas
Dari sisi sosial, bencana yang terjadi terus-menerus dapat menimbulkan migrasi penduduk, trauma psikologis, hingga ketegangan sosial akibat perebutan sumber daya pascabencana.
Sedangkan secara ekonomi, kerugian diperkirakan meningkat tajam karena kerusakan infrastruktur dan kebutuhan biaya pemulihan yang semakin besar.
“Ketika banjir menjadi siklus tahunan, pembangunan akan terhambat dan kemiskinan semakin mengakar,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sukses Jual 1.000 Unit V23, iCAR Hadir di Sleman Yogyakarta
- 2Keren, Rasio Ketersediaan Darah PMI Kota Jogja Tertinggi se-Indonesia
- 3Tiket Online PSIM vs Persija Dijual Hari Ini, Simak Baik-baik Jam Penjualannya
- 4Penumpang KA Jarak Jauh Daop 6 Yogyakarta Tembus 10,5 Juta
- 5Antisipasi Banjir Sleman, Pemkab Petakan 3 Wilayah Fokus Mitigasi
- 6SHFC 2026 Digelar di JCM, Sleman Angkat Halal Fashion dan Kriya Lokal
- 7Diva Maulana hingga Oscar Prasetyo Berjaya di Kraton Cup XXVIII 2026
- 8MUNAS VII APTIKOM 2026: UAJY Desak Kampus IT Jadi Pusat Dampak di Era AI
- 9Batas Kelurahan Sleman Tuntas 100%, Sejarah Baru Bagi DIY?
- 10Pelajar Kota Jogja Beradu Kreativitas dan Imajinasi melalui Mural









