Jogja

Mahasiswa UAD Lakukan Penelitian tentang Tepo Sliro atau Tenggang Rasa Masyarakat Yogyakarta

M. Mubin Wibawa | 1 Oktober 2025, 09:05 WIB
Mahasiswa UAD Lakukan Penelitian tentang Tepo Sliro atau Tenggang Rasa Masyarakat Yogyakarta

Akurat.co,Jogja-Kelompok mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan riset atau penelitian tentang tepo sliro atau tenggang rasa warga Yogyakarta.

Riset berjudul ‘Eksplorasi Tepo Sliro Masyarakat Multikultural Kota Yogyakarta Konsep dan Hamemayu Hayuning Bawono untuk Mewujudkan Sustainable City’.

Riset dikerjakan empat mahasiswa UAD yang menyajikan deskripsi komprehensif atau gambaran tepo sliro dalam menjaga toleransi masyarakat multikultural, sebagai percontohan dalam mengelola kota yang toleran dan berkemajuan.

Baca Juga: Sekolah Wartawan UGM Bahas Penyusunan Policy Brief Berbasis Bukti, di Indonesia Kebijakan Seringkali karena Insting dan Kepentingan

Ketua Kelompok Riset, Bayu Ismail mengatakan, selama ini DIY menjadi daerah di Indonesia yang selalu dilekatkan dengan kekayaan multikultural.

Dan Kota Yogyakarta memastikan diri sebagai living lab dalam toleransi, serta menjadi tempat yang ramah bagi keberagaman dan terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat.

“Tingkat toleran Kota Yogyakarta dapat dikatakan paling stabil secara nasional, dan di Yogyakarta nilai-nilai budaya yang luhur dalam masyarakat Jawa tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya," jelasnya.

Hal tersebut yang melatarbelakangi mahasiswa UAD melakukan riset terhadap praktik tepo sliro dalam menyelesaikan konflik dan menjaga harmoni sosial pada masyarakat multikultural di Kota Yogyakarta.

Sambutan positif disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X saat menerima mereka, Senin (30/9/2025).

Menurut Sri Paduka, dalam hamemayu hayuning bawono sendiri, ada empat konsep kehidupan.

Baca Juga: Mantan Bupati Sleman Jadi Tersangka Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata

Yakni empan papan, subosito, tepo sliro, dan unggah-ungguh.

"Jika empat konsep ini kita gunakan dalam hidup, hamemayu hayuning bawono akan terbentuk,” ujarnya.

Sri Paduka juga mengungkap, selaras lebih unggul dibanding serasi.

Konsep selaras dicontohkannya pada permainan musik gamelan yang begitu indah dan megah meski tanpa ada yang memimpin.

“Semua itu unsur utamanya rasa, nglenggahke rasa mengalahkan segalanya.

Jadi pakailah rasa di setiap aspek kehidupan kita. Dan rasa juga yang jadi poin penting dalam hamemayu hayuning bawono,” ujar Sri Paduka.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.