Jogja

Macan Tutul Jawa Terancam Punah, Pakar UGM Ungkap Penyebab Utamanya

M. Mubin Wibawa | 28 November 2025, 11:05 WIB
Macan Tutul Jawa Terancam Punah, Pakar UGM Ungkap Penyebab Utamanya

Akurat.co,Jogja-Keberadaan macan tutul jawa atau Panthera pardus melas semakin mengkhawatirkan setelah populasinya terus menyusut.

Populasi macan tutul jawa diperkirakan hanya sekitar 319 individu dengan kurang dari 50 ekor dewasa.

Macan jawa kini menjadi menjadi satu-satunya kucing besar yang tersisa di Pulau Jawa setelah harimau jawa dinyatakan punah.

Dosen Fakultas Biologi UGM sekaligus ahli DNA forensik satwa liar, Dr. Dwi Sendi Priyono menilai bahwa penurunan populasi macan tutul jawa tidak bisa lagi dipandang sebagai fenomena biasa.

Baca Juga: Pakar UGM Ungkap Penyebab Longsor Banjarnegara yang Tewaskan 11 Warga

Sejumlah faktor utama mempercepat keterancaman satwa ini, mulai dari hilangnya habitat akibat konversi lahan, konflik manusia–satwa, hingga perburuan ilegal dan perdagangan yang melibatkan bagian tubuh karnivora tersebut.

Penurunan populasi mangsa juga menjadi ancaman serius mengingat beberapa satwa mangsa seperti babi hutan turut terdampak wabah African Swine Fever (ASF).

“Faktor lain adalah penurunan ketersediaan mangsa karena overhunting atau wabah penyakit pada spesies mangsa,” paparnya.

Kondisi ini semakin rumit karena satwa tersebut juga ditemukan di wilayah non-kawasan lindung, membuat distribusinya bersifat mosaik.

Menanggapi persoalan tersebut, Sendi menilai strategi konservasi yang paling efektif ialah pendekatan In Situ pada skala lanskap mengingat macan tutul jawa hidup berdampingan dengan manusia.

Baca Juga: Newsfluencer Berkembang Pesat di Indonesia, Pakar UGM Ungkap Fakta Tak Terduga

Upaya ini perlu dilakukan dengan melindungi patch habitat kunci, memperkuat jejaring kawasan lindung, serta mengelola wilayah non-lindung agar tetap fungsional sebagai habitat satwa liar.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas penegakan hukum, monitoring ilmiah, dan perencanaan berbasis sains.

“Jadi, strategi konservasi In Situ diutamakan, Ex Situ sebagai pilihan pelengkap jika diperlukan,” katanya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.