Jogja

Kisah I Made Sarmita, Raih Gelar Doktor UGM dengan IPK Sempurna 4,00

Haris Ma'ani | 31 Juli 2026, 11:04 WIB
Kisah I Made Sarmita, Raih Gelar Doktor UGM dengan IPK Sempurna 4,00
I Made Sarmita menyelesaikan gelar doktornya di UGM dengan IPK 4,00. (foto: dok.Made via UGM)

Akurat.co,Jogja-Usianya baru 37 tahun. Tapi I Made Sarmita sudah menyelesaikan gelar doktornya di UGM.

Tak sekadar lulus, sosok asal Bali ini juga meraih IPK sempurna 4,00 dalam waktu 2 tahun, 10 bulan.

I Made menjadi satu dari 28 wisudawan lain yang meraih IPK 4,00 untuk program doktor, yang pelaksanaan wisuda dilakukan Rabu (22/7) lalu.

Sosok asal Kabupaten Badung, Bali ini mengaku dirinya tidak menyangka bisa lulus doktor dengan predikat pujian.

Baca Juga: Kisah Walmer Siburian, Anak Penjual Gas Melon dan Galon asal Cileungsi Bisa Kuliah Gratis di UGM

Ia menuturkan semakin meyakini kebenaran sebuah ungkapan bahwa hasil tidak menghianati usaha yang sungguh-sungguh.

Menurutnya, usaha tersebut tentu perlu diiringi oleh doa dari orang tersayang.

"Teriring dengan doa dan dukungan semua pihak, baik keluarga, dosen promotor dan ko-promotor, serta kolega yang lain,” katanya dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (31/7).

Perjalanan untuk menuju jenjang pendidikan doktor diakui Made tidaklah mudah.

Made bercerita latar belakang pendidikannya dimulai dari sarjana Pendidikan Geografi Undiksha Bali dari tahun 2006 hingga 2010.

Merantau ke Yogyakarta, ia menempuh pendidikan S2 di Kependudukan UGM pada tahun 2011 hingga 2013.

Lalu dilanjutkan ke jenjang S3 di prodi yang sama dari tahun 2023 hingga 2026.

Ujian datang pada awal kuliah, motivasi dan komitmen Made dalam melanjutkan studi cukup diuji.

Sebab, ia sempat menghadapi kegalauan kepastian beasiswa yang sedang ia perjuangkan.

Namun, komitmen dan keyakinannya yang tinggi membawanya tetap menjalankan studi dan akhirnya berhasil memperoleh beasiswa.

Selama perkuliahan, Made mengaku merasa sangat terbantu oleh fasilitas yang diberikan oleh UGM.

Ia mengapresiasi dosen dan tenaga kependidikan yang ada karena memberikan perkuliahan dengan mode fleksibel.

Meski tugas kuliah yang diberikan terlihat berat, imbuhnya, ia mengaku hampir tidak menemukan kendala berarti selama proses kuliah.

“Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi,” ungkapnya.

Made turut memberikan pesan untuk tetap percaya dengan kemampuan diri dan doa sebagai modal utama dalam menyelesaikan studi dan memperoleh IPK 4.00.

Menurutnya, tidak ada sesuatu tanpa jalan keluar. Ia menekankan bahwa semua akan terasa mudah kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga: Muhammad Nur Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Dapat Kuliah Gratis di UGM

Begitu sebaliknya, kata Made, semua akan terasa sulit kalau hanya dipikirkan saja dan tidak dikerjakan.

“Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa,” pesannya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.