Prediksi Ekonom UGM soal Ekonomi Indonesia Hadapi Lonjakan Minyak Dunia akibat Konflik Iran-Israel

Akurat.co,Jogja-Ekonom UGM, Muhammad Edhie Purnawan menyampaikan pandangannya terkait ekonomi Indonesia menghadapi lonjakan minyak dunia imbas konflik Iran-Israel.
Saat ini ekonomi dunia berada di tengah ketidakpastian seiring harga minyak mentah dunia yang menembus USD 108 per barel.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Dosen UGM Ingatkan Harga Pangan Bisa Naik
Keadaan ini menjadi ancaman nyata bagi inflasi di negara-negara yang masih mengimpor minyak.
Anomali ekonomi Indonesia
Muhammad Edhie menyampaikan, di tengah situasi tersebut Indonesia justru menampilkan anomali yang impresif.
Tampa dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang stabil di level 53,8 serta pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 yang menyentuh 5,39% menegaskan kokohnya fundamental domestik Indonesia.
Ekonom UGM, Muhammad Edhie Purnawan. (foto: dok.ugm)
"Cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar menjadi benteng pertahanan terakhir yang memadai untuk meredam turbulensi pasar,” ungkapnya.
Edhie yang juga Ketua Bidang International Affairs Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, menjelaskan, penutupan Selat Hormuz berisiko memutus pasokan energi Asia Pasifik.
Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penahan benturan melalui subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Guru Besar UGM Ungkap Penyebab Utama Banyaknya OTT Kepala Daerah
Menurut Edhie, kebijakan Bank Indonesia menginjeksikan likuiditas melalui kebijakan Intensif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun dan menurunkan bunga kredit ke level 8,80% juga menjadikan sektor UMKM serta dunia usaha tetap bisa bergerak meski biaya modal global sedang melonjak.
Sebagai middle power yang independen dengan surplus perdagangan konsisten selama 69 bulan, Indonesia memiliki kredibilitas untuk menyuarakan bahwa perang pada akhirnya harus berakhir melalui negosiasi dan pemahaman mendalam, bukan dengan retorika yang saling memojokkan sebagai musuh atau pembohong.
“Perdamaian tercapai saat setiap pihak memahami kepentingan masing-masing sekaligus menemukan titik temu kemanfaatan bersama.
Maka, urgensi saat ini adalah menghentikan seruan peperangan dan memulai meja diskusi,” katanya, dikutip dari laman resmi UGM.
Edhie menambahkan bahwa semua perhitungan geopolitik dan ekonomi harus berjuang pada satu keyakinan yaitu Indonesia tidak boleh ragu untuk menentukan sikap dimasa sulit saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 8Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam






