Pemkab Sleman ingin ada kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengevaluasi program ini.
Sebab, dari kejadian keracunan ini yang terkena imbas pertama adalah pemerintah.
"Tiba-tiba ada keracunan, Pemda yang kena. Lho ini gimana, kok di Sleman lagi? Karena sebelumnya kita harus jujur. SOPnya bagaimana?" kata Bupati Sleman Harda Kiswaya, Kamis (28/08/2025).
Baca Juga: Lagi, Keracunan Usai Menyantap MBG Menimpa Pelajar SMP Di Sleman
Menurut bupati ini penting. Apalagi ia juga mendapat informasi jika ada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang justru melimpahkannya ke pihak ketiga.
Hal ini tentu akan berdampak pada kesulitan dalam proses kontrol. Terutama jika terjadi kasus keracunan.
Menurutnya, tindakan itu tidak boleh dilakukan. Sebab, ketika sudah ditunjuk sebagai SPPG, pasti SOPnya sudah jelas dalam proses pengolahan makanan.
Seperti tim pengendali mutu, sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kualitas makanan sebelum didistribusikan.
Baca Juga: Cegah Keracunan MBG Terulang, Pemkab Sleman Minta Kejelasan Regulasi Terkait Pengawasan
"Khan sebelum didistribusikan pasti di cek terlebih dahulu. Diteliti apakah sudah sesuai dengan higienisnya, baik, tidak ada yang basi, sehingga aman untuk dikonsumsi," ungkapnya.
Bupati juga menegaskan, jika pihaknya fokus terhadap pemulihan siswa yang terdampak keracunan ini.
"Ya, saya tegas saja. Cabut izinnya. Jangan diberi kepercayaan. Berarti mereka tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Karena ini menyangkut kesehatan banyak orang. Anak-anak lagi. Harus hati-hati betul," tegasnya.
Untuk itu kontrol SOP yang sudah dibangun di SPPG bisa betul-betul dijalankan dan dijabat orang yang punya kemampuan.
Menurutnya, seorang ahli gizi wajib ada di setiap SPPG. Bukan sebatas ahli masak saja. Karena seorang ahli gizi memiliki kemampuan dalam mengontrol kandungan gizi dari makan tersebut.
Baca Juga: Jogja Corruption Watch Desak MBG Dihentikan, Usai Terulangnya Keracunan Massal
Kepala Dinas Kesehatan Cahya Purnama menjelaskan, pihaknya telah mengambil sampel makanan di SMPN 3 Berbah. Menu yang dikonsumsi saat itu adalah nasi kuning, telor dadar, abon, kering tempe, jeruk dan juga air.
"Hanya sampel makanan saja dan sudah kita kirimkan ke laboratorium. Kalau muntah dan feses tidak. Untuk hasilnya sekitar 10 hari kedepan," katanya.