Penanganan Depresi Remaja Indonesia Minim, Kesehatan Mental Pelajar Jogjakarta jadi Fokus Perhatian

Akurat.co, Jogja-Data menunjukkan tingkat depresi remaja di Indonesia mencapai sekitar 2 persen dan baru 10,4 persennya mencari pengobatan.
Kenyataan ini membuat pemerintah kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta bersama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga menyelenggarakan kegiatan Orientasi Sekolah Sehat Jiwa (SSJ) bagi guru dan siswa SMP atau sederajat.
Program ini diharapkan sebagai upaya membentuk sistem sekolah yang aman, nyaman, serta peduli terhadap kesehatan jiwa siswa dan semua warga di sekolah.
Baca Juga: Pakar Hukum UMY Sebut Penangkapan Aktivis Yogyakarta Langgar Prinsip Konstitusi
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Bidang P2P, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Iva Kusdyarini, mengungkapkan, program SSJ merupakan bagian dari Peraturan Wali Kota (Perwali) Kota Yogyakarta Nomor 80 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Upaya Kesehatan Jiwa Tahun 2024-2028.
“Melalui program ini, guru dan siswa dibekali pengetahuan dasar tentang kesehatan jiwa, keterampilan mendeteksi dini masalah psikologis, hingga kemampuan memberikan konseling sederhana dan melakukan rujukan ke Guru BK atau psikolog puskesmas,” ungkapnya, dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja.
Selain itu, kegiatan SSJ bertujuan memperkuat kapasitas sekolah dalam pencegahan, pemantauan, serta penanganan awal masalah kesehatan jiwa.
Ia menambahkan sejak tahun 2023, program SSJ telah dijalankan sebagai pilot project di empat sekolah, yaitu SMP Negeri 3, SMP Negeri 7, SMP Taman Dewasa Jetis, dan SMP Bopkri 3.
Pada tahun 2025, program ini dilaksanakan di empat sekolah lain: SMP Negeri 8, SMP Negeri 10, SMP Kanisius Gayam, dan MTs Mu’allimat Kota Yogyakarta.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Lana Unwanah mengatakan, SSJ dilaksanakan dengan dua pendekatan.
Baca Juga: Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo: Pengamen di Malioboro Harus Punya Standar Tinggi
Pertama, melalui pelatihan bagi guru dan siswa yang berperan sebagai agen teman sebaya dalam penanggulangan masalah kesehatan jiwa.
Kedua, optimalisasi peran guru UKS, guru BK, serta jejaring puskesmas dalam upaya pencegahan dan pengendalian masalah psikologis di sekolah.
"Dengan adanya program ini, kita berharap sekolah bisa menjadi tempat belajar yang aman dan sehat, sekaligus mampu merespons permasalahan kesehatan jiwa siswa, termasuk mencegah kasus bullying yang saat ini masih marak,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dosen dan Mahasiswa UAJY Sabet Juara 1 di Konferensi Asia Singapura
- 2UIN Sunan Kalijaga Peringkat 2 Kampus Terbaik Indonesia versi WUR 2027
- 3Jajan Oleh-Oleh Khas Bantul di Geplak Mbok Tumpuk, Peyek Tumpuknya Legend
- 4Gedung Baru DPRD DIY, Progres Pekan ke-81 Tembus 91 Persen
- 5Proses Pergantian Kapolri Berlangsung Kilat, Ini Kata Pakar UMY
- 6PLN DIY Dorong Mahasiswa Pahami Transisi Energi
- 7Saling Salip di Tikungan Akhir Jepang, Badly Ayatullah Persembahkan Podium IM4AC 2026
- 8Rumaket 2026, Cara Pemkot Yogya Dekatkan Wayang ke Gen Z
- 9Gedung Baru DPRD DIY, Progres Pekan ke-81 Tembus 91 Persen
- 10Proses Pergantian Kapolri Berlangsung Kilat, Ini Kata Pakar UMY









