Jogja

Pakar Transportasi UGM Sebut Becak Listrik Lebih Manusiawi dan Dukung Konsep Hijau

M. Mubin Wibawa | 3 Desember 2025, 13:05 WIB
Pakar Transportasi UGM Sebut Becak Listrik Lebih Manusiawi dan Dukung Konsep Hijau

Akurat.co,Jogja-Pakar transportasi UGM, Dr.Dewanti menyebut becak listrik yang digagas Presiden Prabowo Subianto lebih manusiawi pengoperasiannya dan mendukung konsep transportasi hijau yang berkelanjutan.

Menurutnya, becak listrik lebih manusiawi ketimbang yang konvensional atau becak kayuh.

Menurutnya, becak kayuh berkesan kurang manusiawi karena menitikberatkan pada penggunaan tenaga manusia dalam perjalanannya.

Penggunaan becak listrik juga menjadi angin positif dalam mendukung konsep green and sustainable transportation di perkotaan.

Menurutnya, wilayah perkotaan masih bergelut dengan persoalan kemacetan dan emisi gas karbon sehingga tergolong berat dalam menambah pencemaran udara yang kian memburuk.

Baca Juga: Dishub DIY Kampanyekan Becak Kayuh Bertenaga Listrik

Becak listrik, kata Dewanti, dapat berkontribusi menekan polusi tersebut.

“Saya kira, program ini harus disiapkan dengan baik infrastruktur dan regulasi yang diperlukan,” tutur Dewanti, Rabu (3/12).

Becak listrik kini dilengkapi dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang memudahkan pengguna.

Peneliti Senior Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM ini menjelaskan, komponennya meliputi vehicle tracking, monitoring baterai dan sistem kelistrikan, sistem pembayaran digital, sensor keselamatan, serta fasilitas lainnya.

Menurutnya, teknologi ini dapat memudahkan dan menarik perhatian wisatawan untuk lebih memilih becak sebagai kendaraan khas nusantara.

Munculnya tantangan bagi pengguna

Kendati demikian, dosen Teknik Sipil UGM ini juga mengemukakan tantangan yang turut muncul seperti skema peralihan becak lama ke listrik.

Seperti, ketersediaan pengisian daya (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum-SPKLU), hingga regulasi peraturan lalu lintas yang diperlukan.

Baca Juga: Transportasi Online Bajaj Dilarang di Kota Yogyakarta, Bentor Juga

“Selain itu, limbah baterai harus dicarikan jalan keluar untuk meminimalkan dampak lingkungan,” tegas Dewanti.

Sebagai informasi program ini telah berjalan sejak 2024 dan hingga kini telah menyalurkan lebih dari 2.000 unit ke berbagai wilayah di Indonesia.

Kelompok lanjut usia menjadi prioritas penerima bantuan tersebut, sejalan dengan tujuan presiden untuk memberdayakan masyarakat kurang mampu.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.