Jogja

Inovasi Atasi Stunting Segoro Bening Wirobrajan Dapat Penghargaan Nasional, Apa yang Dilakukan?

Yudi Permana | 23 Januari 2026, 11:05 WIB
Inovasi Atasi Stunting Segoro Bening Wirobrajan Dapat Penghargaan Nasional, Apa yang Dilakukan?

Akurat.co,Jogja-Inovasi mengatasi stunting yang dilakukan Kemantren Wirobrajan, Yogyakarta, mendapatkan penghargaan nasional.

Inovasi Semangat Gotong Royong Bebas Stunting (Segoro Bening) masuk sebagai Finalis Top Inovasi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2025 Kelompok Umum oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Jawatan Sosial Kemantren Wirobrajan, Eka Kusumawati, menjelaskan bahwa Segoro Bening lahir dari kesadaran bahwa persoalan stunting tidak bisa diselesaikan secara parsial atau sektoral.

Baca Juga: Posyandu dan Puskesmas Berperan Besar dalam Penurunan Stunting di Kota Yogyakarta

“Sejak awal 2023 kami melihat, setelah data stunting ada, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana intervensinya. Dari situ muncul Segoro Bening," jelasnya.

Angka stunting tinggi

Pada tahun 2023, prevalensi stunting di Kemantren Wirobrajan masih berada di angka 10,56 persen.

Pada saat itu keterlibatan masyarakat dan stakeholder masih terbatas, koordinasi lintas sektor belum berjalan sistematis, serta edukasi kepada keluarga berisiko stunting belum menjangkau seluruh sasaran.

Melalui Segoro Bening, pendekatan diperluas dengan mengoptimalkan peran seluruh pemangku kepentingan, mulai dari puskesmas, KUA, Polsek, Koramil, hingga dunia usaha dan masyarakat.

Intervensi dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir, mencakup remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga bayi dan balita.

Puskesmas berperan dalam pemeriksaan kesehatan dan pemberian tablet tambah darah, KUA melakukan pembinaan calon pengantin, sementara dunia usaha terlibat melalui program CSR untuk mendukung pemenuhan gizi.

Sejumlah mitra yang terlibat dalam Segoro Bening antara lain Bank Jogja, BPD DIY, Lazismu, pelaku UMKM, catering, hingga produsen makanan balita.

Kolaborasi tersebut memungkinkan penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan baduta berisiko stunting, bahkan pada saat belum tersedia dukungan anggaran khusus.

Andalkan kolaborasi dengan berbagai sektor

Pada tahun 2025, kolaborasi diperluas dengan Universitas Widya Mataram yang mendampingi kegiatan posyandu sekaligus memberikan edukasi langsung kepada orang tua balita.

Kerja sama ini direncanakan berlanjut pada 2026 sebagai bagian dari keberlanjutan Segoro Bening.

Eka menambahkan, meskipun angka stunting terus menurun, evaluasi tetap dilakukan secara mendalam.

“Segoro Bening bukan sekadar mengejar angka, tapi memastikan setiap anak mendapat perhatian sesuai kebutuhannya. Penanganan stunting harus manusiawi dan berkeadilan,” tegas Eka.

Baca Juga: Tekan Angka Stunting di Kota Yogyakarta, Komisi A DPRD DIY Perjuangkan Kenaikan Anggaran BKK

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menyampaikan apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan di wilayah, termasuk Segoro Bening di Kemantren Wirobrajan.

“Kami sangat mengapresiasi inovasi-inovasi di wilayah, karena penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri. Harus melibatkan semua unsur lintas sektoral," katanya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.