Jogja

Pakar UMY Ungkap Agenda Global di Balik Perang AS dan Iran, Apa Itu?

Haris Ma'ani | 5 Maret 2026, 08:20 WIB
Pakar UMY Ungkap Agenda Global di Balik Perang AS dan Iran, Apa Itu?
akar ekonomi politik UMY, Prof. Faris Al-Fadhat. (foto: dok.UMY)

Akurat.co,Jogja-Pakar ekonomi politik UMY, Prof. Faris Al-Fadhat mengungkap adanya agenda global di balik perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

“Kita harus melihat dari sudut pandang yang lebih luas bahwa ada perebutan sumber-sumber ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyerang Iran karena dianggap sebagai ancaman politik,” ujar Faris dalam keterangannya dikutip Kamis (5/3/2026).

Baca Juga: 6 Pernyataan Sikap UII terhadap Situasi Bangsa, Tuntut RI Kutuk Israel dan AS hingga Evaluasi MBG

Menurut Faris konflik tersebut mengandung agenda strategis dalam perebutan akses energi global, terutama terkait cadangan minyak mentah Iran yang sangat besar.

Iran pemilik cadangan minyak terbesar dunia

Iran tercatat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, dengan cadangan terbukti mencapai sekitar 208,6 miliar barel, atau hampir 12 persen dari total cadangan minyak global, menurut data OPEC.

Posisi ini hanya berada di bawah Venezuela dan Arab Saudi dalam peringkat dunia.

Data tersebut menunjukkan bahwa setiap gangguan terhadap produksi atau pemasokan minyak Iran dapat berdampak signifikan pada pasar energi global, terutama apabila konflik meluas atau mengancam stabilitas jalur transit energi seperti Selat Hormuz, yakni jalur yang menjadi rute keluar utama bagi sekitar 20 persen minyak bumi yang diangkut secara laut.

Baca Juga: Guru Besar UGM Tolak Perjanjian Perdagangan dengan AS dan Board of Peace

Dampak konflik pun dapat dirasakan oleh perekonomian negara lain.

Sebagian besar ekspor minyak Iran selama ini menuju China, yang merupakan salah satu konsumen energi terbesar dunia.

Gangguan suplai dapat memicu lonjakan harga minyak serta gejolak di pasar energi internasional.

Lebih jauh, Faris membandingkan motif strategis konflik ini dengan kebijakan luar negeri AS pada masa sebelumnya, termasuk intervensi AS di negara-negara produsen minyak lain.

Baca Juga: 28 Juta Warga RI alami Gangguan Jiwa, Pakar UMY Ungkap Penyebabnya

Menurutnya, perubahan rezim di negara kaya energi dapat memberikan keuntungan jangka panjang bagi AS karena memudahkan akses ekonomi yang lebih dominan di kawasan tersebut.

“Dalam konteks kebijakan luar negeri AS, penguasaan akses energi menjadi instrumen penting untuk mempertahankan dominasi ekonomi dan politik global,” jelas Faris, yang juga dosen Program Studi Hubungan Internasional UMY.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.