DPRD DIY Desak Usut Tuntas Wafatnya Pelatihan Manager KDMP

Akurat.co, Jogja - DPRD DIY mendesak usust tuntas terkait meninggalnya Calon Manajer Koperasi Dasar Merah Putih (KDMP)
Setidaknya ada lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pelatihan dasar militer.
"Harus segera dihentikan dan evaluasi secara menyeluruh," desak Ketua DPRD DIY Eko Suwanto, Selasa (30/06/2026).
Menurutnya, keselamatan peserta harus menjadi unsur utama yang dipastikan. Jangan sampai ada lagi korban meninggal.
Baca Juga: Seluruh ASN Kabupaten Bantul Diwajibkan jadi Anggota KDMP
Eko menegaskan, evaluasi pelatihan penting. Termasuk mencakup standar rekrutmen peserta, metode pelatihan, kurikulum, kompetensi instruktur, sarana prasarana hingga dukungan layanan kesehatan selama pelatihan berlangsung.
Karena menurutnya, proses seleksi peserta semestinya diawali dengan pemeriksaan kesehatan yang memadai. Termasuk penelusuran riwayat penyakit.
Hal tersebut penting agar penyelenggara mengetahui kondisi setiap peserta dan mampu memberikan perlindungan selama mengikuti pelatihan.
"Ada peserta dengan catatan henti jantung. Ini harus didalami. Apakah sebelum pelatihan dilakukan tes kesehatan, apakah selama pelatihan juga ada pemeriksaan kesehatan," katanya.
Baca Juga: 1.061 KDMP Diresmikan Presiden, Koperasi di Bantul Belum Beroperasi
Untuk itu, penting adanya evaluasi terhadap metode pelatihan yang diterapkan.
Selain itu, materi pembentukan karakter dan kedisiplinan harus disesuaikan dengan kebutuhan calon manajer koperasi. Tanpa mengabaikan kondisi fisik peserta.
"Jangan metode latihan sepakbola dipakai untuk panjat tebing. Metode pelatihan harus disesuaikan dengan kebutuhan pesertanya. Mungkin yang lebih dibutuhkan adalah pembentukan kedisiplinan, manajemen, mental model, kejujuran dan integritas," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar penyelenggara tidak menerapkan pola aktivitas yang berlebihan.
Baca Juga: Kantongi Rp10 Miliar per Hari, Koperasi Gemah Ripah DIY Juga Ubah Limbah Buah jadi Listrik
Selain evaluasi internal, investigasi secara menyeluruh juga harus dilakukan. Termasuk penegakan keadilan terhadap lima peserta yang meninggal dunia.
"Aparat penegak hukum harus melakukan pendalaman, investigasi secara transparan dan menerapkan proses hukum atas meninggalnya lima warga negara Indonesia. Libatkan para ahli dan praktisi yang memahami standar pelatihan serta metode pengembangan peserta," kata Eko Suwanto.
Hal utama yang penting dijalankan yaitu standar penyelenggaraan pelatihan. Saat ada peserta mengalami luka misalnya, harusnya menjadi perhatian serius, apalagi hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
"Dalam standar pelatihan yang kedepankan keselamatan. Luka saja tidak boleh, apalagi meninggal. Maka harus ada pihak yang bertanggung jawab secara hukum. Ini penting sebagai koreksi dan evaluasi terhadap program-program pemerintah," kata Eko Suwanto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tiket Offline PSIM vs Persija Dijual Hanya untuk Kelompok Suporter, Kapan Suporter Umum?
- 2Sleman Darurat 'Obat Resep', Konsumsi Alprazolam Tembus 6,2 Juta Tablet, Apotek Mulai Meresahkan Warga
- 3Daftar 5 Lurah PAW Kabupaten Sleman yang Resmi Dilantik Hari Ini
- 4Gandeng Mitra Asia hingga Eropa, FSMR ISI Yogyakarta Gelar Pameran Seni JMMK #18
- 5Genap Berusia 270 Tahun, Ini Catatan Merah yang Bikin Pemkot Jogja Harus Kerja Keras
- 6Tiket Online PSIM vs Persija Dijual Hari Ini, Simak Baik-baik Jam Penjualannya
- 7LSP UGM Tambah 28 Skema Sertifikasi Baru, Siapkan Lulusan Kerja
- 8Gelaran Wayang Jogja Night Carnival Targetkan 60 Ribu Pengunjung
- 9Antisipasi Banjir Sleman, Pemkab Petakan 3 Wilayah Fokus Mitigasi
- 10Drawing Piala Liga Untungkan PSIM, Lawan Relatif Mudah





