Dosen UAJY Raih Hibah RIIM BRIN untuk Kembangkan Wisata Inklusif di Yogyakarta

Akurat.co, Jogja - Dua dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berhasil meraih hibah Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 11 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kedua dosen tersebut adalah Desideria Cempaka Wijaya dan Mutiara Cininta.
Hibah diraih bersama dengan tim multidisipliner. Hibah akan digunakan untuk mengembangkan konsep wisata inklusif bagi wisatawan dengan disabilitas di kawasan kampung wisata budaya Yogyakarta.
Tim peneliti tersebut terdiri dari dosen Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta.
Baca Juga: 9 Tahun KAMAJAYA Scholarship, Telah Salurkan Lebih dari Rp 5 M untuk Beasiswa Mahasiswa UAJY
Melalui hibah tersebut, tim mengembangkan penelitian berjudul “Rancang Bangun Multimedia dan Multisensory Guidebook Inklusif untuk Turis Disabilitas di Kampung Wisata Budaya Yogyakarta”.
Penelitian akan berlangsung selama dua tahun dan direncanakan dimulai setelah penandatanganan kontrak pada bulan September 2026.
Penelitian akan berfokus pada tiga kampung wisata di kawasan Kotagede. Tim akan mengembangkan panduan wisata berbasis multimedia dan multisensori yang diharapkan dapat membantu wisatawan dengan disabilitas menikmati kawasan wisata secara lebih nyaman.
“Di sini, kami akan lebih banyak memperhatikan turis disabilitas netra, tuli dan juga wheelchair,” ujar Desideria, Rabu (19/08/2026).
Baca Juga: FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
Menurut Desideria, pendekatan multidisipliner diperlukan karena pengembangan destinasi wisata inklusif perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kenyamanan pengunjung, arsitektur, hingga teknologi.
“Modeling gambarnya itu dibuat oleh orang-orang arsitek. Tapi teknologinya dibuat oleh orang dari teknik elektro dan ada dari aspek pariwisata juga,” tambahnya.
Desideria mengungkapkan, ia ingin tempat wisata turut inklusif dalam memfasilitasi disabilitas dengan penerapan multisensori. Karena menurutnya, setiap orang memaknai suatu tempat dengan sensor yang berbeda.
Ia memberi contoh teman-teman netra bisa menikmati wisata dengan meraba. Teman tuli disediakan juru bahasa isyarat, hingga yang memakai kursi roda akan disediakan augmented reality atau virtual reality di depan bangunan, sehingga ia bisa tetap menikmati representasi bangunan yang disuguhkan.
Baca Juga: UAJY dan Gita Wirjawan Bahas Masa Depan dan Peran Strategis Asia Tenggara
“Karena sensory experience bagi disabilitas itu adalah survival, maka sensory mereka jauh lebih tajam,” ungkap Desideria.
Desideria berharap penelitian ini bisa menjadi model untuk nantinya diaplikasikan, sehingga bisa membuka akses yang lebih besar untuk destinasi wisata yang lebih inklusif khususnya bagi teman-teman disabilitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tiket Online PSIM vs Persija Dijual Hari Ini, Simak Baik-baik Jam Penjualannya
- 2Keren, Rasio Ketersediaan Darah PMI Kota Jogja Tertinggi se-Indonesia
- 3Sukses Jual 1.000 Unit V23, iCAR Hadir di Sleman Yogyakarta
- 4Penumpang KA Jarak Jauh Daop 6 Yogyakarta Tembus 10,5 Juta
- 5SHFC 2026 Digelar di JCM, Sleman Angkat Halal Fashion dan Kriya Lokal
- 6Antisipasi Banjir Sleman, Pemkab Petakan 3 Wilayah Fokus Mitigasi
- 7MUNAS VII APTIKOM 2026: UAJY Desak Kampus IT Jadi Pusat Dampak di Era AI
- 8Seri IM4AC 2026 Mandalika, M Badly Incar Podium Beruntun di Rumah
- 9Hasil BRI Super League Pekan 4: Beda Nasib Dua Tim Jogja, PSIM Kalah, PSS Pesta Gol
- 10Sukses Jual 1.000 Unit V23, iCAR Hadir di Sleman Yogyakarta









