Pakar Ekonomi UMY Sebut Desil Bukan Ukuran Miskin dan Kaya, Kondisi Bisa Berubah karena PHK

Akurat.co,Jogja-Pakar Ekonomi UMY, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, Ph.D mengkritisi pengelompokan masyarakat berdasarkan desil kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) perlu terus dievaluasi.
Menurutnya angka desil tidak dapat langsung digunakan sebagai ukuran kekayaan atau kemiskinan.
Kesejahteraan sebuah keluarga dapat berubah karena kehilangan pekerjaan atau terkena PHK misalnya.
Baca Juga: Keren, Mahasiswa UMY Ubah Limbah Popok jadi Pupuk
Perubahan pendapatan, bertambahnya tanggungan, dan pengeluaran tidak terduga juga dapat memengaruhinya.
“Desil menunjukkan posisi sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya, bukan menunjukkan seberapa kaya atau sejahtera keluarga tersebut," jelasnya dikutip dari laman resmi UMY, Senin (24/8).
Ia menyebut, desil 10 berarti sebuah keluarga berada dalam kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.
Namun, masuk desil 10 tidak selalu berarti keluarga tersebut tergolong kaya seperti yang dibayangkan masyarakat.
Dalam DTSEN, masyarakat dibagi ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kesejahteraan.
Desil 1 menunjukkan 10 persen masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Desil 10 menunjukkan 10 persen masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi.
Pembagian tersebut membantu pemerintah melihat posisi relatif setiap kelompok masyarakat.
Namun, kondisi ekonomi masyarakat tetap sangat beragam. Dua keluarga dengan kondisi hampir sama dapat masuk ke desil berbeda.
Hal tersebut dapat terjadi jika posisi kedua keluarga berada di sekitar batas pemeringkatan. Karena itu, penggunaan desil perlu disesuaikan dengan tujuan kebijakan.
Instrumen untuk menentukan penerima bantuan sosial tidak selalu harus memiliki fungsi yang sama dengan instrumen pemetaan kesejahteraan secara umum.
“Pengukuran harus disesuaikan dengan tujuannya. Satu instrumen tidak harus digunakan untuk semua kebutuhan. Yang penting adalah memastikan indikator yang digunakan benar-benar sesuai dengan tujuan kebijakan,” jelasnya.
Kondisi keluarga bisa berubah cepat
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga dapat berubah dalam waktu singkat.
Pendapatan dapat berubah. Seseorang juga dapat kehilangan pekerjaan atau memiliki tanggungan baru.
Biaya kesehatan yang muncul secara tiba-tiba juga dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga.
Susilo menegaskan, desil sebaiknya tidak dianggap sebagai label mutlak kondisi ekonomi seseorang.
Baca Juga: Kritisi Sekolah Rakyat, Dosen UMY Pertanyakan Pembangunan Gedung Baru
Posisi sebuah keluarga dalam kelompok masyarakat memang dapat dilihat melalui desil, tetapi tetap harus dipahami bersama kondisi lainnya.
"Dengan demikian, desil adalah alat bantu penyaringan, bukan vonis,” tandas Susilo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 8Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam





