Produktivitas Kakao Nasional Menurun, Ini Kata Pakar UGM

Akurat.co,Jogja-Produktivitas komoditas kakao secara nasional mengalami penurunan. Padahal data Kementerian Pertanian dan BPS menunjukkan luas areal kakao Indonesia masih besar.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat tren penurunan produksi kakao nasional sejak 2015, dengan produktivitas rata-rata berkisar pada 500–700 kg per hektar per tahun.
Angka ini masih jauh di bawah negara produsen utama seperti Ghana, yang mampu mencapai produktivitas 800–1.000 kg per hektar.
Kondisi tersebut turut disoroti oleh peneliti dan akademisi Fakultas Pertanian UGM, Nur Akbar Arofatullah, S.P., M.Biotech., Ph.D.
Baca Juga: UGM dan Pemkab Kulon Progo Jajaki Pengembangan Rumah Sakit
Nur Akbar menilai bahwa persoalan kakao nasional jauh lebih kompleks daripada sekadar luas lahan.
Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan produktivitas kakao nasional rata-rata hanya sekitar 700 kilogram per hektar per tahun.
"Ini menggambarkan bahwa kendala terbesar di lapangan adalah produktivitas yang rendah, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan hama dan penyakit,” ujarnya Jumat (2/1).
Ungkap penyebabnya
Ia menjelaskan bahwa hama dan penyakit seperti penggerek buah kakao (PBK) serta penyakit vascular streak dieback (VSD) menjadi faktor utama penurunan hasil.
Menurutnya, PBK merusak buah secara langsung, sementara VSD menyebabkan kematian bertahap pada batang dan daun. “Dua masalah ini sangat signifikan menekan produksi,” terangnya.
Saat ini, berbagai pendekatan pengendalian, termasuk penggunaan fungisida hayati dan insektisida hayati, tengah diuji untuk menekan kerusakan tanaman secara lebih berkelanjutan.
Namun demikian, Akbar menegaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit tidak akan optimal tanpa didukung oleh penggunaan bibit kakao unggul.
Menurutnya, salah satu akar persoalan produktivitas kakao nasional adalah masih luasnya penggunaan bibit asalan yang tidak terstandar, baik dari sisi potensi hasil maupun ketahanannya terhadap penyakit.
“Bibit unggul itu pondasi. Kalau sejak awal bahan tanamnya lemah, maka sebaik apapun pemupukan dan pengendalian hama, hasilnya tetap tidak maksimal,” ujarnya.
Baca Juga: Kasus ISPA Melonjak Pascabencana di Sumatera, Dokter UGM Sebut Anak dan Lansia Rentan Terinfeksi
Ia menjelaskan bahwa bibit kakao unggul tidak hanya berperan dalam meningkatkan produktivitas, tetapi juga menentukan keseragaman tanaman, umur mulai berbuah, serta stabilitas hasil dalam jangka panjang.
Selain itu, varietas unggul yang memiliki toleransi lebih baik terhadap PBK dan VSD dapat menurunkan risiko kegagalan panen sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia.
“Dengan bibit yang tepat, tekanan penyakit bisa ditekan sejak awal, dan biaya produksi petani menjadi lebih efisien,” tambahnya dikutip dari laman resmi UGM.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Inovasi Smart Claypot UPNVY, Simpan Cabai 15 Hari Tanpa Listrik
- 2Pembukaan FKY 2026, Hadirkan Kolaborasi Apik Sultan dan Kunto Aji
- 3JJLS Kelok 23 Mulai Diuji Coba, DPRD DIY Soroti Hal Ini
- 4544 Atlet ASN Siap Berlaga dalam PORPRIDA DIY 2026
- 5Pelantikan Pengurus Peradi 3 Kabupaten/Kota, Dorong Sinergi Penegakan Hukum Berkeadilan
- 6Keren, Jam Belajar Masyarakat Kota Jogja Dimulai dari Tingkat RW
- 7Warga Sengir Sleman Terima Serat Kekancingan dari Keraton
- 8Pantai Gumuk Pasir jadi Saksi Pembaretan Pasukan Perdamaian PBB di Afrika Tengah
- 9Kelok 23 Baru Difungsikan untuk Kendaraan Roda 2 dan 4 Saja, Kapan Kendaraan Berat?
- 10Inovasi Smart Claypot UPNVY, Simpan Cabai 15 Hari Tanpa Listrik





