Jogja

Produktivitas Kakao Nasional Menurun, Ini Kata Pakar UGM

M. Mubin Wibawa | 2 Januari 2026, 14:05 WIB
Produktivitas Kakao Nasional Menurun, Ini Kata Pakar UGM

Akurat.co,Jogja-Produktivitas komoditas kakao secara nasional mengalami penurunan. Padahal data Kementerian Pertanian dan BPS menunjukkan luas areal kakao Indonesia masih besar.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat tren penurunan produksi kakao nasional sejak 2015, dengan produktivitas rata-rata berkisar pada 500–700 kg per hektar per tahun.

Angka ini masih jauh di bawah negara produsen utama seperti Ghana, yang mampu mencapai produktivitas 800–1.000 kg per hektar.

Kondisi tersebut turut disoroti oleh peneliti dan akademisi Fakultas Pertanian UGM, Nur Akbar Arofatullah, S.P., M.Biotech., Ph.D.

Baca Juga: UGM dan Pemkab Kulon Progo Jajaki Pengembangan Rumah Sakit

Nur Akbar menilai bahwa persoalan kakao nasional jauh lebih kompleks daripada sekadar luas lahan.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan menunjukkan produktivitas kakao nasional rata-rata hanya sekitar 700 kilogram per hektar per tahun.

"Ini menggambarkan bahwa kendala terbesar di lapangan adalah produktivitas yang rendah, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan hama dan penyakit,” ujarnya Jumat (2/1).


Ungkap penyebabnya

Ia menjelaskan bahwa hama dan penyakit seperti penggerek buah kakao (PBK) serta penyakit vascular streak dieback (VSD) menjadi faktor utama penurunan hasil.

Menurutnya, PBK merusak buah secara langsung, sementara VSD menyebabkan kematian bertahap pada batang dan daun. “Dua masalah ini sangat signifikan menekan produksi,” terangnya.

Saat ini, berbagai pendekatan pengendalian, termasuk penggunaan fungisida hayati dan insektisida hayati, tengah diuji untuk menekan kerusakan tanaman secara lebih berkelanjutan.

Namun demikian, Akbar menegaskan bahwa pengendalian hama dan penyakit tidak akan optimal tanpa didukung oleh penggunaan bibit kakao unggul.

Menurutnya, salah satu akar persoalan produktivitas kakao nasional adalah masih luasnya penggunaan bibit asalan yang tidak terstandar, baik dari sisi potensi hasil maupun ketahanannya terhadap penyakit.

“Bibit unggul itu pondasi. Kalau sejak awal bahan tanamnya lemah, maka sebaik apapun pemupukan dan pengendalian hama, hasilnya tetap tidak maksimal,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus ISPA Melonjak Pascabencana di Sumatera, Dokter UGM Sebut Anak dan Lansia Rentan Terinfeksi

Ia menjelaskan bahwa bibit kakao unggul tidak hanya berperan dalam meningkatkan produktivitas, tetapi juga menentukan keseragaman tanaman, umur mulai berbuah, serta stabilitas hasil dalam jangka panjang.

Selain itu, varietas unggul yang memiliki toleransi lebih baik terhadap PBK dan VSD dapat menurunkan risiko kegagalan panen sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pestisida kimia.

“Dengan bibit yang tepat, tekanan penyakit bisa ditekan sejak awal, dan biaya produksi petani menjadi lebih efisien,” tambahnya dikutip dari laman resmi UGM.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.