Jogja

Cobain Ampo, Camilan Tanah Liat Khas Bantul yang Masuk Warisan Budaya Takbenda

Yudi Permana | 21 Juni 2025, 09:05 WIB
Cobain Ampo, Camilan Tanah Liat Khas Bantul yang Masuk Warisan Budaya Takbenda

Akurat.co, Jogja-Di daerah Bantul, Yogyakarta, ada camilan dari tanah liat. Ya, benar-benar dari tanah liat. Namanya Ampo.

Terbuat dari tanah lempung yang diambil dari daerah makam-makam Raja di Imogiri, ampo bahkan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Dusun Kerten yang terletak di Jalan Imogori Timur, Bantul, Yogyakarta, adalah tempat di mana masyarakatnya memproduksi camilan khas ini.

Poniyo adalah salah satu pembuat Ampo yang tinggal di Padukuhan Kerten, Kalurahan Imogiri, Kapanewon, Imogiri, Bantul.

Baca Juga: Gurihnya Bakmi Mbah Mo, Kuliner Bakmi Bantul yang Terkenal

Ia merintis usahanya dari 2007. Awalnya hanya iseng ikut mertuanya yang juga pembuat Ampo Karena faktor ekonomi.

"Tahun 2007 kami berada dalam kesulitan sehingga saya harus menekuni usaha ini walaupun waktu itu sangat sulit," kata Poniyo.

Usaha yang awalnya dari iseng dan untuk keluar dari kesulitan ekonomi ternyata bertahan sampai hari ini.

Untuk membuat Ampo ternyata tidak bisa sembarang menggunakan tanah liat. Tanahnya harus bersih dan hanya mengambil tanah di pegunungan Imogiri

"Tanah diambil dari daerah Giriloyo dekat makam raja," ungkapnya.

Proses pembuatan ampo dimulai dari merendam tanah dengan air agar menjadi lebih lembut.

Setelah itu, tanah dicetak menggunakan pelek motor bekas, dibiarkan semalaman, lalu dirajang dan dikeringkan langsung di bawah sinar matahari.

Poniyo mengungkap tidak menggunakan penggiling, hanya mengolah tanah secara manual hingga bisa dibentuk.

Baca Juga: Bikin Candu, Rasa Manis yang Khas dan Otentik Mie Ayam Tumini

Ampo yang dihasilkan kemudian dikirim ke pasar-pasar tradisional di Yogyakarta.

Ampo ukuran kecil saat ini kadang masih dijadikan camilan. Sedang yang besar biasanya untuk penawar pahit pada masakan daun pepaya.

Tapi saat ini, Ampo lebih banyak dibeli untuk keperluan sesajen atau digunakan sebagai penawar rasa pahit pada daun pepaya.

“Kebanyakan yang menyediakan itu di rempah-rempah. Bakul-bakul rempah-rempah itu. Bumbuan pawon itu. Itu yang ngambil mayoritas itu,” kata Poniyo.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.