Dominasi Tanah Kapur, 5 Kecamatan di Gunungkidul Rawan Kekeringan

Akurat.co,Jogja-Sebanyak lima kecamatan atau kapanewon di wilayah Gunungkidul disebut rawan ancaman kekeringan.
Kelima kecamatan tersebut masing-masing, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Saptosari. Wilayah tersebut didominasi tanah kapur.
"Karakteristik tanah di sana dominan tanah kapur sehingga sangat mudah kering, artinya tidak mampu menyimpan air di permukaan tanah," kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono dikutip dari Antara Jogja, Jumat (26/6/2026).
Purwono menjelaskan, wilayah-wilayah di selatan Gunungkidul tersebut rentan kekeringan karena kontur tanahnya kurang mampu menahan air.
Baca Juga: Dukung Veda Ega Pratama, Nobar Moto3 jadi Agenda Rutin Masyarakat Gunungkidul Saat Ini
Tren tersebut, kata dia, didasarkan pada pengamatan terhadap kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, air tanah di wilayah tersebut berada pada kedalaman sekitar 80 hingga 100 meter di bawah permukaan tanah, sehingga kawasan selatan menjadi wilayah yang lebih dahulu menerima bantuan penyaluran air bersih dari BPBD.
"Penyaluran air kami awalnya dari selatan, kemudian nanti makin mundur ke belakang merembet ke arah utara, seperti itu pemetaannya," katanya.
Ia mengatakan dampak kekeringan juga dapat mengganggu produktivitas pertanian di lahan-lahan sekitar.
Namun demikian, Purwono menilai para petani di wilayah tersebut telah memiliki cara mitigasi tersendiri dalam menghadapi kekeringan yang hampir selalu terjadi setiap tahun.
Ia menilai masyarakat sudah bertahun-tahun menyatu dengan alam.
Baca Juga: Bertemu Andi F Noya, Bupati Gunungkidul Jajaki Peningkatan Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi
Baca Juga: Bertemu Andi F Noya, Bupati Gunungkidul Jajaki Peningkatan Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi
Salah satu bentuk mitigasi yang dilakukan petani adalah menanam tanaman yang lebih tahan terhadap minimnya ketersediaan air pada musim kemarau, seperti umbi-umbian dan ketela.
Purwono menambahkan bahwa kondisi alam di wilayah tersebut memang lebih cocok untuk tanaman keras seperti ketela.
Selain itu, masyarakat di daerah tersebut juga telah menyesuaikan musim panen ketela dengan kondisi cuaca.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Bukan Lewat Skripsi, Ini Rahasia Mahasiswa UPN Jogja Lulus 3 Tahun 10 Bulan
- 2Gunakan Teknologi 'Live Streaming', Begini Jalannya Pemilihan Lurah PAW Sleman 2026
- 3Kalah dalam 3 Laga Awal, Fans PSS Berharap Finis 10 Besar
- 4Gelar Kuliah Umum, UAJY dan Komnas HAM Kupas Tuntas Hak Atas Tanah dalam Perspektif HAM
- 5Nostalgia Zaman Dulu melalui Pasar Lawas Mataram di Kawasan Masjid Gedhe Bantul
- 6Kembali Berlatih usai Libur, Skuad PSIM Fokus Kembalikan Kebugaran
- 7PLN UP3 Sedayu Jalin Kerja Sama dengan BTN Yogyakarta, Perkuat Layanan Perumahan
- 8Finis Keempat di Race 2 Aragon, Ramadhipa Jaga Asa Tembus 3 Besar Klasemen JuniorGP
- 9Finis Keempat di Race 2 Aragon, Ramadhipa Jaga Asa Tembus 3 Besar Klasemen JuniorGP
- 10Sinergi Lintas Daerah, Sleman dan Klaten Bagi Potensi Pajak Candi Prambanan Demi Dongkrak PAD







