Kendalikan Hama Tikus di Sawah, Petani Gunungkidul Memakai Metode Ramah Lingkungan Empos

Akurat.co,Jogja-Hama tikus masih menjadi momok petani di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta.
Untuk mengendalikan sekaligus mencegah penyebaran penyakit leptospirosis, petani setempat menggunakan metode ramah lingkungan, empos.
Petugas PPL Provinsi DIY, Sarno, menjelaskan bahwa metode empos dipilih karena lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan rodentisida.
Selain efektif mengendalikan populasi tikus, cara tersebut juga menjaga keberlangsungan predator alami, khususnya burung hantu atau Tyto alba, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Baca Juga: 18 Wisatawan Tersengat Ubur-ubur di Pantai Gunungkidul
“Melalui metode empos, tikus dapat dimatikan di dalam liang sehingga tidak meninggalkan bangkai beracun yang berpotensi membahayakan burung hantu maupun satwa lainnya,” ujarnya.
Sarno menambahkan, pemerintah juga memberikan pelatihan pembuatan alat empos kepada petani serta menyediakan bahan pengendalian secara gratis.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan kelompok tani dalam melakukan pengendalian hama secara mandiri dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan sama, Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto menegaskan bahwa pengendalian hama tikus harus dilakukan secara serentak dan melibatkan seluruh elemen masyarakat agar hasilnya lebih optimal.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan petani menjadi kunci dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.
Ia mengapresiasi keterlibatan para penyuluh dan tenaga teknis yang terus mendampingi masyarakat dalam menerapkan metode pengendalian yang efektif sekaligus ramah lingkungan.
Kehadiran tenaga ahli seperti Sarno, kata dia, diharapkan mampu memberikan solusi nyata bagi petani dalam menghadapi ancaman hama tikus.
Baca Juga: 1.500 Peserta Siap Pecahkan Rekor MURI Senam Penthul Tembem di Gunungkidul
“Pengendalian hama bukan hanya bertujuan menyelamatkan hasil panen, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat melalui pencegahan penyebaran leptospirosis,” ujar Joko dikutip dari laman resmi Pemkab Gunungkidul. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Keren, Rasio Ketersediaan Darah PMI Kota Jogja Tertinggi se-Indonesia
- 2Tiket Online PSIM vs Persija Dijual Hari Ini, Simak Baik-baik Jam Penjualannya
- 3Sukses Jual 1.000 Unit V23, iCAR Hadir di Sleman Yogyakarta
- 4Penumpang KA Jarak Jauh Daop 6 Yogyakarta Tembus 10,5 Juta
- 5SHFC 2026 Digelar di JCM, Sleman Angkat Halal Fashion dan Kriya Lokal
- 6Antisipasi Banjir Sleman, Pemkab Petakan 3 Wilayah Fokus Mitigasi
- 7MUNAS VII APTIKOM 2026: UAJY Desak Kampus IT Jadi Pusat Dampak di Era AI
- 8Seri IM4AC 2026 Mandalika, M Badly Incar Podium Beruntun di Rumah
- 9Batas Kelurahan Sleman Tuntas 100%, Sejarah Baru Bagi DIY?
- 10Pelajar Kota Jogja Beradu Kreativitas dan Imajinasi melalui Mural









