Jogja

Tak Pandang Remeh Masalah Kesehatan Mental, UII Dorong Kampus Miliki Kepedulian

M. Mubin Wibawa | 15 Oktober 2025, 12:05 WIB
Tak Pandang Remeh Masalah Kesehatan Mental, UII Dorong Kampus Miliki Kepedulian

Akurat.co,Jogja-Kesehatan mental, terutama di kalangan mahasiswa menjadi perhatian utama kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

UII baru-baru ini menyelenggarakan acara Diskusi Panel Kesehatan Mental Mahasiswa: Dari Kebijakan hingga Aksi Nyata.

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber antara lain Muhammad Iqbal Fauzi, S.E., selaku Ketua Tim Pembelajaran dan Kemahasiswaan LLDIKTI Wilayah V, dr. Seruni Angreni Susila, M.Ph selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman.

Latifatul Laili, S.Psi., M.Psi, Psikolog selaku Kepala Divisi Pembinaan Kepribadian dan Kesejahteraan DPK UII, dan Salma Fairuz Putri selaku Ketua PIK-M Aushaf UII.

Kesehatan mental mahasiswa telah menjadi isu global yang mendapat perhatian serius, terutama mengingat prevalensi gangguan psikologis yang tinggi di lingkungan perguruan tinggi.

“Satu poin yang menurut perlu disuarakan bersama adalah mental health matters. Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental, jadi mari kita urus kesehatan mental kita bersama,” ungkap Latifatul Laili.

Baca Juga: Penanganan Depresi Remaja Indonesia Minim, Kesehatan Mental Pelajar Jogjakarta jadi Fokus Perhatian

Pengawalan masalah kesehatan mental tidak hanya sebatas pada penerapan kebijakan dan peran universitas, tetapi ada andil mahasiswa dalam mengurai masalah ini.

Banyak cara yang bisa dilakukan mulai dari kampanye media sosial, konseling sebaya, belonging project, hingga edukasi.

“Harapannya dapat terbentuk lingkungan kampus yang peduli akan kesehatan mental, sehingga mampu menciptakan dukungan kegiatan yang berkelanjutan dan membuat mahasiswa berani mencari bantuan tanpa takut akan stigma yang ada,” ungkap Salma

UII berusaha selalu merespons dan menjadi pelopor yang secara konsisten mengembangkan layanan konseling mahasiswa.

Sejak 2010, layanan ini terus berkembang hingga melibatkan konselor profesional dan sebaya.

Hingga pada tahun 2023, UII meluncurkan program Peduli Kesehatan Mental Mahasiswa atau PEKA UII Terpadu menghadirkan pendekatan menyeluruh dengan melibatkan sivitas akademika UII yang telah mendapat pelatihan psychological first aid (PSA) hingga penanangan kasus krisis yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

Kemudian tahun 2024, UII membukan layanan konseling berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk level masalah psikologis ringan.

Baca Juga: Paling Banyak se-Indonesia, 36 Ribu Warga Jogja Alami Gangguan Jiwa, Dosen UMY Ungkap Cara Mengatasinya

Pengembangan ini menjawab kebutuhan konseling yang semakin besar dan bertujuan memperluas akses bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan awal sebelum dirujuk ke layanan profesional.

Sementara itu, LLDikti Wilayah V menginiasiasi pembentukan Mental Health Center (MHC) yang mendorong setiap perguruan tinggi untuk menyediakan unit layanan konseling, membekali dosen dan tenaga kependidikan dalam psychological first aid (PFA), serta melakukan skrining kesehatan mental secara rutin.

“Kebijakan ini juga mencakup pembentukan kebijakan anti-stigma dan anti-diskriminasi terhadap mahasiswa dengan gangguan mental, serta kolaborasi dengan rumah sakit dan puskesmas untuk memperkuat sistem rujukan,” ungkap Iqbal Fauzi.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.