Guru Besar UGM Ungkap 75 Persen Sampah Rumah Tangga Berakhir di TPA, Padahal Miliki Potensi Biomassa

Akurat.co,Jogja- Guru Besar Bidang Biomassa dan Sampah menjadi Energi UGM, Prof. Ir. Rochim Bakti Cahyono mengungkap 75 persen sampah organik atau sisa makanan masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Sampah jenis tersebut masih minim pengolahan dan minim pemanfaatan.
"Akibatnya, ya potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa tersebut belum dapat termanfaatkan secara optimal,” ungkapnya pada pidato pengukuhannya sebagai guru besar belum lama ini dikutip dari laman resmi UGM.
Baca Juga: Pakar UGM Ungkap Kekeringan Dapat Berlangsung hingga Awal 2027
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, timbulan sampah pada tahun 2025 mencapai sekitar 52,84 juta ton, dengan limbah rumah tangga sebagai penyumbang terbesar, yakni sebesar 58,58 persen, dan sampah organik atau sisa makanan merupakan komponen yang dominan, sekitar 39 persen.
Merespons permasalahan ini, Rochim bersama Departemen Teknik Kimia (DTK) UGM, meneliti bahwa biomassa dan limbah ternyata mempunyai peran yang unik.
Berbeda dengan sumber energi terbarukan lainnya, kata Rochim, limbah dan biomassa tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga bisa mengurangi timbunan sampah, meningkatkan efisiensi penggunaan, dan juga mengurangi emisi.
“Pemanfaatan biomassa dan limbah memberikan manfaat ganda yang mencakup energi, lingkungan, dan ekonomi,” terangnya.
Rochim mengaku, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat atau nilai tambah apabila tidak didukung oleh inovasi teknologi proses yang tepat.
Rochim mengutarakan kembali bahwa 75 persen sampah kota masih berakhir di TPA dengan minim pengolahan dan minim pemanfaatan, yang akhirnya akan menimbulkan permasalahan lingkungan, emisi gas rumah kaca, dan yang paling krusial adalah keterbatasan lahan.
Baca Juga: Rektor UGM Pastikan Pelaksanaan PIONIR Nyaman dan Bermakna bagi Maba
Meningkatnya timbulan sampah tersebut mendorongnya untuk mengembangkan teknologi waste-to-energy sebagai salah satu solusi untuk menjawab permasalahannya.
“Agar tetap relevan dengan tantangan masa depan, arah penelitian terkait waste-to-energy harus terus diperbarui dan difokuskan pada pengembangan renewable carbon, biorefinery terintegrasi, serta pemanfaatan teknologi digital,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tiket Offline PSIM vs Persija Dijual Hanya untuk Kelompok Suporter, Kapan Suporter Umum?
- 2Sleman Darurat 'Obat Resep', Konsumsi Alprazolam Tembus 6,2 Juta Tablet, Apotek Mulai Meresahkan Warga
- 3Gandeng Mitra Asia hingga Eropa, FSMR ISI Yogyakarta Gelar Pameran Seni JMMK #18
- 4Daftar 5 Lurah PAW Kabupaten Sleman yang Resmi Dilantik Hari Ini
- 5Genap Berusia 270 Tahun, Ini Catatan Merah yang Bikin Pemkot Jogja Harus Kerja Keras
- 6Gelaran Wayang Jogja Night Carnival Targetkan 60 Ribu Pengunjung
- 7LSP UGM Tambah 28 Skema Sertifikasi Baru, Siapkan Lulusan Kerja
- 8Jamur Krispi KhumKhum Kulon Progo Dapat Pengakuan Nasional, Gimana Rasanya?
- 9Drawing Piala Liga Untungkan PSIM, Lawan Relatif Mudah
- 10Tiket Online PSIM vs Persija Dijual Hari Ini, Simak Baik-baik Jam Penjualannya









