23 Juta Pekerjaan Hilang pada 2030, Wagub DIY: Pemimpin Harus jadi Agen Perubahan

Akurat.co,Jogja-Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X meminta agar jajaran pemerintahannya, termasuk para pemimpin harus peka terhadap perubahan.
hal tersebut disampaikan saat pelepasan peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XI Tahun 2025, Kamis (25/09) di Bandiklat, Gunung Sempu, Bantul.
Wagub DIY, KGPAA Sri Paku Alam X menyampaikan bahwa pemimpin merupakan penggerak perubahan di instansi masing-masing.
Ia pun berharap peserta yang mengikuti pelatihan bisa mewujudkan ilmunya di birokrasi.
Baca Juga: Keren, Pemda DIY Terpopuler di Media Sosial 2025
"Para peserta pelatihan diharapkan menjadi motor penggerak perubahan di instansinya masing-masing, membangun organisasi yang adaptif sekaligus berkelanjutan," ujar Sri Paduka.
Teriring harapan agar pengalaman selama pelatihan menjadi bekal berharga untuk menunaikan kepemimpinan serta melahirkan terobosan yang amanah inovatif dan ramah lingkungan.
"Mari kita melangkah bersama menuju birokrasi yang tidak hanya melayani manusia, tetapi juga memuliakan alam," ungkap Sri Paduka.
Apa yang disampaikan Sri Paduka sejalan dengan perubahan yang saat ini terjadi.
Perubahan teknologi membawa dampak signifikan. Merujuk Data World Economic Forum, tahun ini sebanyak 87 juta pekerjaan hilang secara global, digantikan 95 juta pekerjaan baru.
Di Indonesia, diperkirakan hingga 2030 terdapat 23 juta pekerjaan hilang, berganti dengan 45 juta jenis pekerjaan baru.
“Banyak pekerjaan, termasuk di birokrasi, tidak lagi relevan. Pemimpin dituntut peka terhadap perubahan dan mampu membawa organisasinya beradaptasi dengan platform kerja baru.
Teknologi memang tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak paham teknologi pasti akan tersingkir,” kata Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Muhammad Taufiq.
Lebih jauh, Taufiq menyebut negara dengan sistem eksploitatif cenderung gagal bertahan lama, sedangkan negara dengan sistem inklusif justru mampu bertahan ratusan hingga ribuan tahun.
Kuncinya, terletak pada kepemimpinan yang mendorong pembelajaran, inovasi, dan pelayanan publik yang inklusif.
“Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin regeneratif, yang tidak hanya belajar, tapi juga mampu membuat organisasinya terus belajar.
Dengan begitu, masyarakat lebih sejahtera, birokrasi lebih adaptif, dan bangsa ini bisa berkelanjutan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bandiklat DIY, Amin Purwani melaporkan, pelatihan ini diikuti 43 peserta. Pelatihan dibuka sejak 20 Mei 2025 lalu dan berlangsung selama 107 hari.
Berdasarkan rapat evaluasi kelulusan pada Rabu (24/09), seluruh peserta dinyatakan lulus dengan rincian 17 orang meraih predikat sangat memuaskan dan 26 orang meraih predikat memuaskan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 2DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 3PWI DIY Terus Perjuangkan Gelar Pahlawan Nasional bagi Udin
- 4Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 5Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...
- 6DPRD DIY Siap Bahas Anggaran DED Renovasi Stadion Mandala Krida
- 7Dulu Saluran Pengairan, Tuk Bulus Sleman Kini Jadi Tempat Wisata Unggulan
- 8116 Orang Jadi Korban Demonstrasi Jogja Memanggil, Ini Respons Pemkot
- 9Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 10Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...





