Jogja

Wakil Wali Kota Jogja Dorong Produk UMKM Jogja Tembus Pasar Ekspor

Haris Ma'ani | 2 November 2026, 14:05 WIB
Wakil Wali Kota Jogja Dorong Produk UMKM Jogja Tembus Pasar Ekspor
Kain ecoprint, salah satu produk UMKM Kota Jogja yang memiliki potensi. -foto: pemkot jogja

Akurat.co,Jogja-Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan mendorong produk UMKM Kota Jogja bisa menembus pasar ekspor.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Tirtodipuran Street Festival, Sabtu (31/10/2026).

Ia menyampaikan rencana mempertemukan pelaku UMKM setempat dengan pihak yang memiliki pengalaman melakukan kurasi produk ekspor.

Baca Juga: GKR Hemas Tekankan Pentingnya Kolaborasi dan Inovasi bagi UMKM Bantul

“Harapan kami produk-produk UKM ini bisa dikembangkan sehingga memiliki potensi untuk menembus pasar ekspor,” katanya.

Menurutnya, penyelenggaraan festival ke depan perlu dirancang lebih terorganisasi dengan melibatkan tiga kelurahan di wilayah Kemantren Mantrijeron.

Setiap kelurahan dapat mengembangkan karakter kegiatan sesuai potensi masing-masing, mulai dari promosi produk, kebudayaan, hingga momentum khas wilayah.

Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron, Narotama menjelaskan Tirtodipuran Street Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah pertama kali digelar pada 2025.

Pada penyelenggaraan perdana selama dua hari, transaksi UMKM tercatat mencapai lebih dari Rp40 juta.

Tahun ini, rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan senam bersama dan pemeriksaan kesehatan.

Sebanyak 40 UMKM turut ambil bagian dengan dukungan Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, kelurahan, serta Kemantren Mantrijeron.

Festival juga menghadirkan peragaan busana ramah lingkungan atau eco-fashion sebagai bagian dari kampanye pengelolaan sampah.

Kegiatan tersebut melibatkan sembilan kampung untuk mengajak masyarakat mengolah barang bekas menjadi produk yang memiliki nilai guna dan estetika.

“Melalui eco-fashion ini kami ingin mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan, terutama persoalan sampah di Yogyakarta. Kami menggerakkan kampung-kampung agar masyarakat semakin sadar bahwa barang bekas bisa menjadi sesuatu yang indah apabila dikelola dengan baik,” jelas Narotama.

Salah satu pelaku UMKM, Isma, yang juga anggota kelompok UMKM Kiwo-Kiwo, memperkenalkan produk kerajinan berbahan tekstil dengan teknik ecoprint, jumputan, dan cap. Ia telah menekuni usaha tersebut sejak 2017.

Kelompok Kiwo-Kiwo sendiri beranggotakan 10 orang dan telah beberapa kali mengikuti kegiatan pameran maupun festival.

Menurut Isma, bergabung dalam kelompok memberinya kesempatan lebih luas untuk memasarkan produk dibandingkan harus berjualan secara mandiri.

“Saya masih memiliki keterbatasan, belum mempunyai HAKI. Kalau melalui kelompok Kiwo-Kiwo, kami masih bisa ikut kegiatan bersama,” ungkapnya.

Baca Juga: PLN DIY Beri Bantuan Modal Usaha ke Pelaku UMKM

Ia berharap pemerintah memberikan pendampingan yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM, terutama usaha berskala kecil.

Keterbatasan penguasaan teknologi digital dan permodalan menjadi tantangan yang masih dihadapi sebagian pelaku usaha.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.