Jogja

Rahasia di Balik Melegendanya Jadah Tempe Mbah Carik

M. Mubin Wibawa | 18 September 2025, 14:05 WIB
Rahasia di Balik Melegendanya Jadah Tempe Mbah Carik

Akurat.co, Jogja-Tak lengkap ke Kaliurang kalau tak mampir ke Warung Jadah Tempe Mbah Carik.

Kuliner melegenda ini seperti terus 'melambai-lambai' ke setiap pengunjung yang menginjakkan kaki di kawasan Kaliurang.

Dinikmati saat pagi, jadah tempe bisa dijadikan sarapan. Dimakan saat siang, bisa dijadikan pengganti makan siang.

Disantap saat sore, apalagi ditemani teh poci, Jadah Tempe Mbah Carik membuat suasana Kaliurang menjadi semakin ngangeni.

Untuk bisa menjaga kualitas rasa, ternyata diperlukan proses dan bahan-bahan terbaik.

Baca Juga: Destinasi Wisata Unik Bergaya Eropa, Menilik Stonehenge yang ada di Cangkringan

Beti, salah satu karyawan di Jadah Tempe Mbah Carik bercerita, pemilihan bahan menjadi salah satu kunci.

Ketan, kepala, garam, tempe, tahu, dan gambus, haruslah berkualitas. Itulah mengapa Jadah Tempe Mbah Carik tak gonta-ganti pemasok.

Pemasok bahan-bahannya tetap. "Tempe dan tahu itu punya pemasok sendiri. Udah punya langganan, jadi nggak cari-cari yang lain. Itu buat quality control juga,” ujar Beti.

Proses panjang pembuatan jadah tempe

Setelah bahan, proses pembuatan jadah tempe juga menjadi rahasia lain dari cita rasa yang terus melegenda.

Dimulai dari mengupas kelapa, mencuci, lalu memarut. Ketan direndam lebih dulu agar empuk saat dikukus.

“Setelah itu dicampur dengan garam aja, dikukus kurang lebih satu setengah jam, ya setelah itu baru ditumbuk,” jelas Beti.

Sementara itu, baceman membutuhkan waktu lebih lama. “Kalau untuk bacemnya, tempe itu cuman direbus dengan gula sama garam aja.

Tempe, tahu, gembus sama prosesnya. Bacemnya kurang lebih ya 2–3 jam,” tuturnya sebagaimana diungkapkannya di laman resmi Pemprov Jogja.

Lalu, yang terakhir adalah cara memasaknya. Salah satu yang khas dari proses memasak di sana adalah masih setia dengan kayu bakar.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata dan Kuliner di Kaliurang, Nomer 2 Bisa Ngopi Sambil Menikmati Gagahnya Merapi

“Kalau sini cenderungnya pakai kayu. Jadi ada kayak sangit-sangitnya gitu mungkin ya,” tutur Beti.

Bukan hanya jadah, baceman pun lebih sering direbus dengan kayu. Cara ini dipercaya memberi aroma khas sekaligus menghemat gas untuk produksi besar.

Semua proses tersebut yang membuat kuliner, yang kemudian juga kerap dikenal dengan 'burger Jawa' ini tak lekang zaman. Bahkan dijadikan Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) DIY.

Siapa yang merindukannya?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.