Jogja

Pengembangan Pariwisata Gunungkidul Diminta Tak Tiru Bali, Pakar Pariwisata UMY: Tiap Daerah Miliki Kekhasan

Haris Ma'ani | 25 Februari 2026, 13:05 WIB
Pengembangan Pariwisata Gunungkidul Diminta Tak Tiru Bali, Pakar Pariwisata UMY: Tiap Daerah Miliki Kekhasan

Akurat.co,Jogja-Pengembangan pariwisata di Kabupaten Gunungkidul diminta tak meniru pola di Bali.

Pernyataan itu disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Pelantikan Pengurus Kadin Kabupaten/Kota se-DIY pada Minggu (15/2).

Menanggapi hal tersebut, pakar kebijakan pariwisata berkelanjutan UMY, Sakir Ridho Wijaya menilai pernyataan tersebut perlu dimaknai sebagai peringatan strategis dalam mengelola potensi wisata Gunungkidul.

“Ketika suatu daerah dikembangkan menjadi destinasi wisata, jangan hanya mengejar pertumbuhan yang cepat," katanya dikutip dari laman resmi UMY, Rabu (25/2/2026).

Baca Juga: Bupati Gunungkidul Tegaskan Pengembangan Pantai Sepanjang Tak Sepenuhnya Berkiblat ke Bali

Menurut Sakir pertumbuhan cepat tanpa pondasi kuat bisa rapuh dan tidak berkelanjutan.

"Apalagi jika pertumbuhan itu tidak berdampak positif terhadap masyarakat lokal dan lingkungan," ujarnya.

Sakir menyebut kehati-hatian dalam pengembangan bukan soal antiinvestasi, melainkan memastikan pertumbuhan tetap terkendali dan memberi manfaat jangka panjang.

Tiap daerah miliki kekhasan masing-masing

Sosok yang juga dosen Ilmu Pemerintahan UMY ini mengatakan, setiap daerah memiliki kekhasan yang tidak bisa disamakan dengan destinasi lain.

Upaya menyeragamkan konsep wisata justru berisiko menghilangkan karakter asli suatu wilayah.

Dalam konteks Gunungkidul, ia menyoroti pentingnya pengendalian tata ruang dan pengelolaan lingkungan, terutama terkait kawasan karst dan keterbatasan sumber daya air yang selama ini menjadi isu krusial.

“Destinasi wisata harus memiliki citra dan kekhasan tersendiri. Jangan sampai kehilangan kendali atas ruang. Jika diseragamkan, lalu di mana identitas lokalnya?," terangnya.

Orang bisa bertanya, mengapa harus jauh-jauh ke Yogyakarta jika pengalaman yang didapat sama seperti di tempat lain.

Sakir menegaskan bahwa menjaga identitas lokal menjadi kunci daya saing pariwisata Yogyakarta.

Budaya yang masih kuat dan hidup di tengah masyarakat dinilai sebagai pembeda yang tidak dimiliki semua daerah wisata.

Baca Juga: Wajah Baru Pantai Sepanjang Gunungkidul, Ratusan Pedagang Lebih Tertata, Ada Kuliner Khas Makjang

Karena itu, perlindungan lingkungan dan budaya harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan investasi.

Dengan status keistimewaan yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pembangunan pariwisata harus tetap selaras dengan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.

Dalam kerangka pariwisata berkelanjutan, Sakir menyebut terdapat tiga aspek utama yang perlu diperkuat, yakni lingkungan, ekonomi, dan kelembagaan.

Ia menilai Gunungkidul perlu terlebih dahulu memperjelas identitas pariwisata yang ingin dibangun sebelum membuka ruang investasi secara lebih luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Haris Ma'ani
H