Jogja

Paling Banyak se-Indonesia, 36 Ribu Warga Jogja Alami Gangguan Jiwa, Dosen UMY Ungkap Cara Mengatasinya

Yudi Permana | 10 Oktober 2025, 11:03 WIB
Paling Banyak se-Indonesia, 36 Ribu Warga Jogja Alami Gangguan Jiwa, Dosen UMY Ungkap Cara Mengatasinya

Akurat.co,Jogja-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tercatat sebagai provinsi dengan jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat skizofrenia terbanyak di Indonesia, yakni mencapai 36 ribu jiwa.

Hal tersebut terungkap dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Angka tersebut adalah 9,3% dari total populasi 3,6 juta penduduk.

Fenomena ini menjadi perhatian serius Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yanuar Fahrizal.

Yanuar menegaskan bahwa disabilitas mental seperti skizofrenia, gangguan depresi mayor, bipolar, maupun gangguan cemas berat adalah kondisi medis yang nyata, bukan aib sosial.

Ia menekankan bahwa pemulihan bagi ODGJ sangat mungkin dilakukan (recovery is possible) jika dilakukan dengan pendekatan holistik.

Hal tersebut disampaikannya menjadi narasumber dalam Seminar Internasional Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Kamis (9/10/2025).

Baca Juga: Penanganan Depresi Remaja Indonesia Minim, Kesehatan Mental Pelajar Jogjakarta jadi Fokus Perhatian

“Obat saja tidak cukup. Obat berfungsi menstabilkan gejala, tetapi proses pemulihan sesungguhnya berfokus pada fungsi dan kualitas hidup.

Banyak ODGJ yang bisa kembali produktif bila mendapatkan pendampingan yang tepat,” tegas Yanuar.

Menurutnya, pemulihan ODGJ tidak hanya diukur dari berhentinya gejala atau ketergantungan pada obat, tetapi dari kemampuan individu untuk kembali hidup mandiri, berdaya, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Keluarga sebagai kunci

Yanuar menekankan bahwa keluarga merupakan sistem pendukung utama dalam proses pemulihan ODGJ.

Keluarga berperan penting dalam menciptakan lingkungan terapeutik yang aman, empatik, dan penuh penerimaan.

Ia menjelaskan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan keluarga adalah meningkatkan literasi tentang kondisi ODGJ, memahami pemicu kekambuhan, menjaga komunikasi yang empatik tanpa penghakiman, serta bermitra dengan tenaga profesional kesehatan jiwa.

Selain itu, keluarga juga perlu menjaga kesehatan mental mereka sendiri agar mampu memberikan pendampingan secara berkelanjutan.

“Keluarga tetap menjadi garda terdepan dan sistem dukungan utama dalam proses pemulihan. Tanpa dukungan keluarga, obat dan terapi tidak akan berjalan optimal,” ujarnya.

Baca Juga: Solusi Permasalahan Sampah, Pemkot Jogja Bangun Pengolahan Pupuk Organik

Selain peran keluarga, Yanuar menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani persoalan ODGJ berat.

Pemerintah provinsi dan kabupaten harus berperan sebagai regulator dan fasilitator kebijakan, sementara sekolah dan perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui integrasi pendidikan kesehatan mental dalam kurikulum dan program pengabdian masyarakat.

Yanuar menegaskan bahwa ODGJ berat seperti skizofrenia bukan akhir dari produktivitas seseorang.

Dengan dukungan keluarga, masyarakat, dan kebijakan yang inklusif, pemulihan bukan hanya mungkin, tetapi nyata.

“Kampanye ‘ODGJ bisa pulih dan produktif’ adalah cara paling efektif untuk melawan stigma. Kuncinya adalah empati, edukasi, dan kolaborasi,” pungkasnya

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.