UGM Rancang Desain Rumah untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumatera

Akurat.co,Jogja-Tim pakar UGM mendesain rumah tinggal untuk korban bencana di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Tim UGM yang merancang desain dinamakan 'Tangguh'. Mereka terdiri dari arsitektur, teknik sipil, serta perencanaan wilayah dan kot.
Ada pun para peneliti yang terlibat dalam grup ini ialah Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., Ir. Ashar Saputra, ST, MT, Ph.D.,IPM., ASEAN.Eng., Maria Ariadne Dewi Wulansari, S.T., M.T., Atrida Hadianti, S.T., M.Sc., Ph.D., dan Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D.
Baca Juga: Guru Besar Geologi UGM Prof.Dwikorita: Wilayah yang Terkena Banjir Tak Layak Dijadikan Hunian
Nares, selaku salah satu dari peneliti mengungkapkan alasan konsep ini muncul karena kondisi di lapangan.
Ia menilai bahwa terpal dan tenda darurat saja tak cukup layak untuk memfasilitasi para warga dalam waktu selama itu.
“Berarti, bisa jadi warga itu akan berada di lokasi itu sebelum ada hunian yang tetap, itu pasti dalam jangka waktu yang lama. Jadi, terpal atau tenda sementara rasanya kok kurang manusiawi,” katanya, Jumat (19/12).
Konsep hunian menggunakan papan kayu
Ashar Saputra, menyebutkan konsep hunian, baik sementara dan tetap menggunakan bahan papan kayu berukuran 3 x 12 cm.
Material utama yang dipilih adalah kayu yang berasal dari hanyutan banjir. Kayu relatif tahan hingga 3–4 tahun dalam berbagai kondisi cuaca.
“Strukturnya hanya pakai baut saja dan alatnya hanya bor. Harapannya itu, sangat sederhana sehingga orang awam dapat membuat rumahnya sendiri. Tempel, gapit, baut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, melalui konsep ini, dimana masyarakat sendiri yang membangun, maka hunian ini akan lebih cepat terwujud. “Dari pada kita harus menunggu satu rumah jadi satu-satu.
Baca Juga: Pemkot Jogja Kirim 25 Koli Bantuan untuk Bencana Sumatera
Masyarakat juga akan merasa lebih memilki, karena ikut serta dalam pembuatannya,”tegasnya.
Soal masa pakainya, Ashar memperkirakan sekitar 3–5 tahun, mengingat proses perencanaan rumah permanen sangat lama, mulai dari penyusunan hazard map hingga penentuan lokasi yang dapat dihuni maupun lokasi relokasi.
Sebelumnya, proyek serupa telah dilakukan di kawasan-kawasan lain yang terdampak bencana, seperti Jogja, Lombok, dan Palu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 2PWI DIY Terus Perjuangkan Gelar Pahlawan Nasional bagi Udin
- 3DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 4DPRD DIY Siap Bahas Anggaran DED Renovasi Stadion Mandala Krida
- 5Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...
- 6Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 7Dulu Saluran Pengairan, Tuk Bulus Sleman Kini Jadi Tempat Wisata Unggulan
- 8116 Orang Jadi Korban Demonstrasi Jogja Memanggil, Ini Respons Pemkot
- 9Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 10Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...









