Jogja

Cerita Agustinus Sulistyo, 10 Tahun Merantau, Pilih Pulang ke Kulon Progo Kembangkan Kopi Trajumas

M. Mubin Wibawa | 27 Januari 2026, 10:05 WIB
Cerita Agustinus Sulistyo, 10 Tahun Merantau, Pilih Pulang ke Kulon Progo Kembangkan Kopi Trajumas

Akurat.co,Jogja-Setelah 10 tahun merantau di kota, Agustinus Sulistyo memutuskan kembali ke kampung halamannya.

Sosok pemuda yang akrab disapa Tio ini kembali ke Kalurahan Pagerhajo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo.

Dari desanya, Tio dibantu empat pemuda lainnya memulai riset kecil-kecilan tentang pengembangan kopi pada Novemver 2019.

Baca Juga: 5 Spot Wisata Kulon Progo yang Bikin Kamu Pengin Balik Lagi dan Lagi

Berbagai tanaman diteliti hingga sebuah temuan sederhana membuka mata mereka. Batang kopi yang selama ini digunakan warga sebagai pagar bambu ternyata masih hidup dan berbuah.

Dari situ, mereka menelusuri sejarah dan menemukan bahwa kopi telah lama tumbuh di Menoreh sejak masa tanam paksa kolonial Belanda, dikenal dengan sebutan kopi Londo.

Pada 2021, gerakan ini menjelma menjadi aksi nyata. Secara swadaya, masyarakat menanam sekitar 12.000 batang kopi.

Langkah tersebut mendapat respons positif dari Kalurahan Pagerharjo.

Legalitas pun diperkuat melalui pembentukan Kelompok Tani Tarunatani Asta Brata sebagai wadah formal pengembangan kopi rakyat.

Lahirlah apa yang dinamakan Kopi Trajumas, ikhtiar yang menautkan sejarah, alam, dan kesejahteraan masyarakat.

Trajumas merupakan akronim dari Timbangan Emas, filosofi keseimbangan antara manusia dan alam.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Daerah DIY melalui Paniradya Keistimewaan, sejalan dengan kebijakan Satuan Ruang Strategis Keistimewaan (SRSK) yang menetapkan Pegunungan Menoreh sebagai kawasan prioritas pembangunan berbasis kekhasan lokal.

Melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan, kelompok tani memperoleh pupuk dan 7.800 bibit kopi setelah legalitas terbentuk.

Bantuan tersebut mempercepat produktivitas tanaman. Pada 2025, dukungan kembali diperkuat dengan penambahan 20.000 bibit kopi sekaligus fasilitas rumah produksi kopi.

“Kopi Trajumas tumbuh dari riset dan kesadaran sejarah. Kami mengembalikan kopi pada kulturnya.

Dari pertanian, pascapanen, pengolahan hingga penyajian, semua melibatkan masyarakat,” jelas Pengelola Trajumas Java Coffee, Sri Herdani.

Saat ini, Kelompok Tani Asta Brata mengelola kopi Arabika dan Robusta, dengan Robusta sebagai produk unggulan karena kesesuaian ketinggian wilayah Menoreh.

Satu pohon kopi diperkirakan mampu menghasilkan 10–11 kilogram per tahun. Jika seorang petani menanam sekitar 2.000 batang, potensi pendapatan bisa mencapai Rp120 juta per tahun atau sekitar Rp10 juta per bulan.

Sejak 2019 hingga kini, sekitar 123 petani telah merasakan manfaat ekonomi dari Kopi Trajumas.

Selain meningkatkan pendapatan petani, kegiatan ini juga menyerap tenaga kerja lokal di sektor pengolahan dan pengemasan.

Lurah Pagerharjo, Widayat, menilai semangat anak muda menjadi modal utama pengembangan kopi rakyat.

Baca Juga: Kenapa Orang-orang Tetap Mau Antre Berlama-lama ke Kopi Klothok? Ternyata Ini Alasannya

Ketika kemauan sudah ada, pemerintah hadir membuka jalan dan memberikan dukungan.

Budidaya kopi dinilai sangat potensial karena didukung kondisi geografis yang sesuai, serta kultur masyarakat Pagerharjo yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada petani kopi.

Insyaallah, kami akan terus meningkatkan budidaya kopi. Potensi kopi sangat besar, baik dari sisi pertanian maupun wisata.

Kami menyiapkan lahan dan mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar kopi menjadi komoditas andalan Pagerharjo,” katanya dikutip dari laman resmi pemda DIY, Selasa (27/1/2026).

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.