Basarnas Gelar ATSF 2026 di DIY, Uji Kesiapan Darurat Transportasi ASEAN

Akurat.co, Jogja - Indonesia kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan 13th ASEAN Transport SAR Forum (ATSF) dan ASEAN SAR Exercise (SAREX) 2026.
Berlangsung di DIY, ATSF dan SAREX 2026 di gelar selama dua hari. 29–30 September 2026.
Kegiatan ini mempertemukan otoritas pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR) negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat koordinasi, menyelaraskan prosedur, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan darurat transportasi yang membutuhkan dukungan lintas negara.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, ATSF dan SAREx 2026 di Yogyakarta memiliki arti strategis.
Baca Juga: Basarnas Gelar Simulasi Gempa di Candi Prambanan
Tidak hanya bagi penguatan kerja sama SAR ASEAN, tetapi juga karena Yogyakarta memiliki sejarah penting dalam perjalanan forum tersebut.
“Yogyakarta memiliki nilai historis dan simbolis dalam perjalanan kerja sama SAR di kawasan ASEAN. Kembalinya kita ke Yogyakarta bukan hanya kembali ke suatu tempat, melainkan kembali kepada semangat kerja sama yang telah dibangun dari waktu ke waktu,” ujar Mohammad Syafii.
ATSF merupakan forum kerja sama regional ASEAN di bidang SAR transportasi, khususnya sektor penerbangan dan pelayaran.
Forum ini merupakan inisiatif Indonesia melalui Basarnas sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama SAR di kawasan ASEAN.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Berhasil Temukan Korban Tenggelam di Sungai Oya
Pembentukannya merupakan tindak lanjut dari pertemuan ASEAN SAR Expert Group Meeting di Yangon, Myanmar, pada 16–17 Oktober 2012.
Dalam perkembangannya, para Menteri Transportasi ASEAN menyepakati pentingnya penguatan kerja sama SAR untuk mendukung keselamatan sektor transportasi di kawasan.
Perjalanan ATSF kemudian berlanjut melalui penyelenggaraan forum secara berkala. Indonesia menjadi tuan rumah forum pertama yang diselenggarakan di Bali pada 2013.
Dalam forum tersebut, negara-negara ASEAN antara lain menyepakati kerangka acuan pembentukan ATSF serta melanjutkan pembahasan Draft ASEAN Multilateral Agreement on Cooperation on Aeronautical and Maritime Search and Rescue.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi Warga Sleman yang Tercebur Sumur Kedalaman 10 Meter
Setahun kemudian, Indonesia kembali menjadi tuan rumah ATSF ke-2 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 11–13 Maret 2014. Forum tersebut menjadi momentum untuk melanjutkan pembahasan kerja sama SAR regional, termasuk pengembangan mekanisme dan prosedur operasi bersama.
Kembali digelarnya ATSF di Yogyakarta pada 2026 dengan demikian memiliki nilai historis tersendiri. Lebih dari satu dekade setelah pertemuan kedua, Yogyakarta kembali menjadi tempat bertemunya para pemangku kepentingan SAR ASEAN untuk membahas tantangan dan kebutuhan kerja sama pencarian dan pertolongan di tengah meningkatnya konektivitas transportasi kawasan.
“Kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun kawasan yang lebih siap menghadapi keadaan darurat. Kerja sama yang kita bangun bukan semata-mata untuk memperkuat hubungan kelembagaan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap orang yang berada dalam bahaya memiliki kesempatan yang lebih besar untuk diselamatkan,” kata Mohammad Syafii.
Meningkatnya konektivitas udara dan maritim di kawasan ASEAN membawa manfaat bagi perdagangan, pariwisata, investasi, serta mobilitas masyarakat. Namun, kondisi tersebut juga menuntut kesiapan bersama dalam menghadapi kemungkinan kecelakaan atau keadaan darurat transportasi yang dapat terjadi di wilayah yang berbatasan atau melibatkan lebih dari satu negara.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Berhasil Temukan Nelayan yang Hilang Akibat Kapalnya Terbalik
Dalam konteks tersebut, ATSF menjadi wadah untuk membangun common understanding, memperkuat koordinasi antarpusat koordinasi SAR (Rescue Coordination Centre/RCC), menyelaraskan prosedur, serta mengidentifikasi berbagai tantangan dalam pelaksanaan operasi SAR bersama.
Basarnas memandang, efektivitas kerja sama SAR lintas negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masing-masing negara, tetapi juga oleh kemampuan untuk berkomunikasi, bertukar informasi, mengambil keputusan, dan mengerahkan sumber daya secara cepat dan terkoordinasi ketika keadaan darurat terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sinergi Lintas Daerah, Sleman dan Klaten Bagi Potensi Pajak Candi Prambanan Demi Dongkrak PAD
- 2Bukan Lewat Skripsi, Ini Rahasia Mahasiswa UPN Jogja Lulus 3 Tahun 10 Bulan
- 3Gebrakan VinFast di Jogja: Rilis 3 Motor Listrik Baru, Varian Termurah Bisa Tembus 145 Km
- 4Gunakan Teknologi 'Live Streaming', Begini Jalannya Pemilihan Lurah PAW Sleman 2026
- 5Kembali Berlatih usai Libur, Skuad PSIM Fokus Kembalikan Kebugaran
- 6Nostalgia Zaman Dulu melalui Pasar Lawas Mataram di Kawasan Masjid Gedhe Bantul
- 7Kalah dalam 3 Laga Awal, Fans PSS Berharap Finis 10 Besar
- 8Gelar Kuliah Umum, UAJY dan Komnas HAM Kupas Tuntas Hak Atas Tanah dalam Perspektif HAM
- 9Tak Jadi Malam, Laga PSIM vs Persija Digelar Sore Hari
- 10Sri Sultan HB X Serahkan 46 SHM Huntap Korban Erupsi Merapi di Sleman




