Suka Diabaikan Pendaki, Dokter UMY Berikan Tips Mudah Kenali Gejala Hipotermia

Akurat.co,Jogja-Di balik tren mendaki gunung, ada risiko kesehatan yang bisa berakibat fatal jika tak dipahami, hipotermia.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya menjelaskan bahwa hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius.
Kondisi tersebut menyebabkan berbagai organ tubuh tidak dapat bekerja secara optimal sehingga berpotensi mengancam keselamatan jiwa.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Mukmin Juara SUCI 12, Alumni UMY yang Sempat jadi Marbot
Ketika suhu tubuh menurun, organ-organ vital seperti jantung akan mulai mengalami gangguan.
Akibatnya, kemampuan jantung dalam memompa darah menjadi tidak maksimal.
Pada saat yang sama, tubuh sebenarnya menggunakan cadangan energi untuk menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil.
Namun, kondisi di lapangan sering kali memperburuk keadaan ini.
“Tubuh membutuhkan suhu yang optimal agar seluruh organ dapat bekerja maksimal. Ketika suhu tubuh turun, fungsi jantung, otot, hingga sistem hormonal ikut terdampak," katanya dikutip dari laman resmi UMY, Rabu (24/6/2026).
Kenali Gejala Hipotermia
Dr. Yusda menjelaskan bahwa gejala hipotermia sering kali disalahartikan sebagai kelelahan biasa oleh sesama pendaki.
Padahal, seseorang yang mengalami hipotermia akan menunjukkan tanda-tanda khusus.
Di antaranya adalah kebingungan, sulit berkonsentrasi, mengantuk berlebihan, kehilangan orientasi, hingga merasa tidak mampu bergerak.
Jika kondisi sudah masuk ke tahap yang lebih berat, korban bahkan dapat mengalami penurunan kesadaran.
“Ketika ada pendaki yang tiba-tiba blank, tersesat, sangat lemas, atau mengantuk berlebihan, kondisi tersebut sebenarnya terjadi karena alasan ilmiah," ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa hipotermia yang tidak segera mendapat penanganan dapat memicu gangguan berantai.
Baca Juga: 5 Fakta Penting Rektor UAD dan UMY Kritik Jalur Mandiri PTN, Mahasiswa Sudah Bayar Pilih Mundur
Fungsi otak, otot, hingga ginjal akan terus menurun.
Pada akhirnya, kondisi ini berpotensi menyebabkan kegagalan organ yang berujung fatal.
“Ketika hipotermia dibiarkan, satu per satu organ akan terdampak. Fungsi otak menurun, otot semakin lemah, dan ginjal mengalami gangguan," jelasnya.
Kondisi ini akan terus berlanjut hingga dapat menyebabkan kematian.
Untuk itu dr. Yusda mengingatkan agar antusiasme menikmati alam harus sejalan dengan pengetahuan.
Pendaki wajib memiliki pemahaman yang memadai mengenai risiko kesehatan selama perjalanan.
Menurutnya, pendakian tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik semata.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 8Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam









