Negara Maju Tak Andalkan SDA, SDM jadi Kunci

Akurat.co,Jogja-Indonesia memiliki semua syarat menjadi negara maju. Mulai penduduk besar, wilayah luas, dan sumber daya melimpah.
Tetapi, negara maju tidak pernah bertumpu hanya kepada kekayaan sumber daya alam (SDA), melainkan lebih kepada kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Pendidikan dan inovasi adalah kunci. Indonesia yang kaya SDA akan benar-benar melompat jika memiliki SDM unggul dan berpendidikan tinggi,” ujar Mendagri Tito Karnavian Tito dalam orasi ilmiah bertajuk "Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Indonesia Emas 2045”.
Orasi disampaikan pada Dies Natalis ke-65 Universitas Sriwijaya, di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (3/11).
Baca Juga: MPP Kota Jogja jadi Percontohan Nasional, Jadi Tempat Belajar 23 Daerah di Indonesia
Sosok yang juga Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya ini menyebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara dominan dan maju pada tahun 2045.
Menurutnya, berbagai modal strategis yang dimiliki Indonesia, mulai dari jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas, hingga kekayaan sumber daya alam, merupakan pondasi kuat menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
Tito menjelaskan, Indonesia memiliki penduduk lebih dari 280 juta jiwa dengan angkatan kerja produktif mencapai 68,95%, wilayah yang luas dengan tiga zona waktu, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Belum lagi, posisi geografis Indonesia yang strategis, berada di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudra (Hindia dan Pasifik), membuat Indonesia berada di jalur penting perdagangan dunia seperti Selat Malaka.
“Kalau kita letakkan peta Indonesia di atas peta Eropa, wilayahnya membentang dari Prancis hingga Turki.
Baca Juga: Zamannya Cashless, Naik Andong di Malioboro Kini Bisa Pakai QRIS
Bahkan, kalau dibandingkan dengan Amerika Serikat, bentangan Indonesia setara dari San Francisco hingga New York. Ini potensi luar biasa yang sering kali tidak kita sadari,” ujar Tito.
Optimisme Tito juga diperkuat oleh hasil kajian lembaga internasional seperti World Bank dan McKinsey, yang menilai Indonesia berpeluang besar menjadi negara berpenghasilan tinggi dan keluar dari middle income trap pada 2045.
Meski memiliki modal besar, Tito mengingatkan bahwa bonus demografi harus benar-benar dikelola dengan baik.
Berdasarkan data, tingkat pengangguran terbuka Indonesia masih berada di angka 4,91%, gini ratio 0,375, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) baru mencapai 76,02.
“Oleh karena itu, bonus demografi yang besar ini harus dikapitalisasi menjadi tenaga kerja produktif. Kalau tidak, justru bisa berubah menjadi beban,” tegas Tito.
Ia mencontohkan, negara seperti Jepang dan Korea Selatan kini menghadapi tantangan penurunan populasi produktif, sementara Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memanfaatkannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





