Jogja

2.000 Pelaku Usaha di Malioboro Ikuti Pemeriksaan Tuberculosis

M. Mubin Wibawa | 1 Desember 2025, 08:24 WIB
2.000 Pelaku Usaha di Malioboro Ikuti Pemeriksaan Tuberculosis

Akurat.co,Jogja-Sebanyak 2.000 pelaku usaha di kawasan Malioboro dan Keraton Yogyakarta mengikuti pemeriksaan tuberculosis (TB).

Pemeriksaan dalam program Active Case Finding (ACF) TB berbasis laboratorium ini dilakukan selama beberapa hari di kawasan tersebut.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti membacakan sambutan Gubernur DIY, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan skrining yang telah melibatkan tenaga kesehatan, komunitas, dan para pelaku wisata.

Kegiatan ini telah menjangkau sekitar 2.000 pelaku wisata di Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

Baca Juga: Kolaborasi Pusat dan Daerah Kunci Sukses Penanggulangan TBC di Indonesia

“Atas nama Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya menyampaikan apresiasi yang tulus atas terlaksananya rangkaian skrining TBC aktif berbasis laboratorium," katanya saat penutupan kegiatan, Sabtu (29/11/2025).

Capaian penanggulangan TB perlu dipercepat

Ni Made menyoroti capaian penanggulangan TB di DIY yang masih perlu dipercepat.

Penemuan kasus baru mencapai 63% dari target nasional 90%. Angka keberhasilan pengobatan berada pada 83,4%, dan cakupan Terapi Pencegahan TB baru 42,2%.

"Karena itu, kegiatan ACF TB dipandang sebagai intervensi strategis. Selain menghadirkan deteksi dini, layanan laboratorium Open PCR, dan investigasi kontak, kegiatan ini ditempatkan di kawasan wisata yang menjadi pusat aktivitas sosial Yogyakarta," terangnya.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, mengapresiasi langkah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pelaksanaan ACF TB berbasis laboratorium, yang dinilai memiliki keunggulan pada kekuatan kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga: Tren TBC di Kota Jogja Menurun, Mendagri Sebut Kolaborasi Pusat-Daerah jadi Kunci Penanganan

Ia menilai DIY memiliki pendekatan yang menonjol dalam pelaksanaan ACF, terutama dari sisi sinergi antarinstansi.

“Kami melihat apa yang bisa dibuat oleh Jogja sebelumnya kami di provinsi yang lain. Nah ternyata di Jogja punya kelebihan terjadi kolaborasi lintas sektor.

Tadi ada dari dinas kesehatan, dinas pariwisata, juga dengan teman-teman dari TNI, ada teman-teman dari berbagai masyarakat peran serta masyarakat,” jelas Benjamin.

Wamenkes juga secara khusus menyoroti dukungan Keraton Yogyakarta yang turut membuka akses skrining bagi abdi dalem.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.