Jogja

Resmi Dibuka, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Bawa Pesan Penting di Tahun Kuda Api

Haris Ma'ani | 27 Februari 2026, 11:00 WIB
Resmi Dibuka, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Bawa Pesan Penting di Tahun Kuda Api
Suasana Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang resmi dibuka pada Rabu (25/2/2026) malam wib. (foto: pemkot jogja)

Akurat.co,Jogja-Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI 2026 resmi dibuka oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Rabu (25/2/2026) malam wib.

Berlokasi di kawasan Pecinan Ketandan dan Jalan Suryatmajan, kegiatan budaya ini akan berlangsung hingga 3 Maret 2026.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, menempatkan PBTY sebagai ruang perenungan nilai, bukan sekadar perayaan tahunan.

Baca Juga: Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta juga jadi Tempat Ngabuburit, Ada Takjil bagi yang Berpuasa

Ia menegaskan bahwa PBTY bukan hanya pertemuan tradisi, melainkan momentum perjumpaan kesadaran kolektif masyarakat dalam merawat keberagaman.

“PBTY bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ini adalah momentum perjumpaan nilai, bukan hanya pertemuan tradisi, tetapi juga pertemuan kesadaran tentang pentingnya harmoni dalam keberagaman,” ungkap Sultan.

Makna penting Tahun Kuda Api

Memasuki Tahun Kuda Api, Sultan menambahkan bahwa energi dan semangat yang menyertai tahun tersebut perlu dituntun agar membawa terang bagi kehidupan bersama.

Menurutnya, semangat itu harus diwujudkan dalam kerja nyata, penguatan solidaritas, serta komitmen menjaga persatuan bangsa melalui jalur kebudayaan.

Ia juga menekankan bahwa budaya memiliki kekuatan menyatukan yang melampaui sekat-sekat identitas.

Dengan mengangkat tema tersebut, PBTY diharapkan menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah modal sosial yang harus dirawat dan dikembangkan.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut baik penyelenggaraan PBTY XXI.

Ia menilai festival ini menjadi ruang nyata untuk melihat akulturasi budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Yogyakarta.

Baca Juga: Pekan Budaya Tionghoa Diadakan 10 Hari, Tunjukkan Jogja Tujuan Wisata yang Penuh Toleransi

“Dengan adanya PBTY, masyarakat bisa melihat bagaimana akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa terjalin harmonis di Kota Yogyakarta," katanya dilansir dari laman resmi Pemkot Jogja.

Menurut Hasto, PBTY juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan berbasis budaya di Kota Yogyakarta.

Ia optimistis gelaran ini mampu meningkatkan geliat pariwisata, terlebih dengan semakin bertambahnya rute penerbangan baru ke DIY.

Tak hanya berdampak pada sektor pariwisata, PBTY juga memberikan efek ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.

Ratusan gerai UMKM turut meramaikan kawasan festival, mulai dari kuliner khas Tionghoa dan Nusantara, kerajinan tangan, hingga produk fesyen dan cendera mata.

“Event seperti ini membuka banyak peluang bagi pelaku UMKM, terutama sektor kuliner. Perputaran ekonomi meningkat, warga sekitar juga merasakan manfaatnya,” tambahnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.