Jogja

Atasi Lahan Terbatas, DPKP DIY Pamerkan Inovasi 'Sawah Palsu'

Atiek Widyastuti | 4 Oktober 2026, 14:38 WIB
Atasi Lahan Terbatas, DPKP DIY Pamerkan Inovasi 'Sawah Palsu'
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Kulon Progo. - pemkab.kulonprogokab.go.id

Akurat.co, Jogja - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY menggelar Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park (JAP) Nanggulan Kulon Progo, pekan lalu. Mengusung tema 'Tuwuh Ngrembaka, Ngembangno Lumbung Mataraman – Modernitas dalam Kearifan Lokal, kegiatan ini melibatkan 10 kalurahan di DIY yang memiliki Lumbung Mataram.

Termasuk 15 Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan total 25 stan yang menampilkan berbagai inovasi pertanian berbasis potensi lokal.

Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman tidak sekadar menjadi ruang pameran. Tetapi juga wadah bertukar pengetahuan dan pengalaman antarkelompok dalam mengembangkan pertanian sesuai potensi wilayah masing-masing.

Secara prinsip Lumbung Mataraman ini mengembangkan konsep nandur opo sing dipangan, dipangan opo sing ditandur. Tetapi dalam prakteknya muncul berbagai kreativitas.

Baca Juga: UGM Kembangkan Gula Semut Kulon Progo jadi Produk Ekspor

"Ada yang menggabungkan dengan peternakan, perikanan maupun tanaman. Potensi lahan yang ada dikembangkan melalui inovasi dan pemilihan komoditas sesuai kebutuhan serta minat masyarakat,” kata Aris sebagaimana dilansir dari laman pemkab.kulonprogokab.go.id, Minggu (04/10/2026).

Menurutnya, lahan terbatas tak menghalangi masyarakat untuk menghasilkan pangan. Pekarangan rumah, lahan kelompok tani, hingga tanah yang belum tergarap didorong menjadi ruang produktif melalui berbagai inovasi Lumbung Mataraman.

Karena keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan pembangunan pertanian. Untuk itu, optimalisasi lahan pekarangan dan lahan yang belum produktif perlu terus dikembangkan. Pemanfaatannya tidak hanya menyasar Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten, tetapi juga lahan milik masyarakat yang masih belum tergarap.

“Konsepnya integrated farming. Tidak hanya melibatkan generasi muda, tetapi juga merangkul keluarga miskin untuk terlibat aktif meningkatkan taraf ekonomi dan ketersediaan pangan mereka,” ujarnya.

Baca Juga: Sultan: Lumbung Mataraman Siap Pasok Bahan Baku MBG

Hingga saat ini, pengembangan Lumbung Mataraman berbasis kalurahan telah mencakup 23 kalurahan di DIY. Sementara kelompok berbasis gabungan kelompok tani (Gapoktan) mencapai hampir 300 kelompok. Komoditas yang dikembangkan terutama hortikultura, seperti sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman hias, serta komoditas lain yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

Salah satu inovasi yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut, adalah “sawah palsu”. Model budidaya yang memadukan tanaman padi dan ikan dalam satu sistem. Inovasi ini menjadi contoh bagaimana keterbatasan ruang dapat disiasati dengan memadukan berbagai komoditas dalam satu lahan agar tetap produktif.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan menyambut baik penunjukan Jogja Agro Park sebagai pusat konsentrasi dan aktivitas Lumbung Mataraman serta pusat pembelajaran pertanian kedepannya.

Menurutnya, festival ini menjadi ajang strategis bagi para petani dan pelaku UMKM untuk saling bertukar ilmu dan memperkuat jejaring ekonomi lokal.

"Lumbung Mataraman menjadi salah satu ruang untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada tersebut. Masyarakat tidak hanya didorong untuk menghasilkan pangan, tetapi juga membangun kemandirian dalam mengelola sumber daya yang ada di lingkungannya," katanya.

Baca Juga: Pantai Watu Lumbung, Pantai Hidden Gem yang Bikin Healing Berkesan

Baca Juga: Pantai Watu Lumbung, Pantai Hidden Gem yang Bikin Healing Berkesan

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmad, saat membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan ketahanan pangan sejati dimulai dari ruang terdekat masyarakat.

Pekarangan rumah dan lahan kelompok tani dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan apabila dikelola sesuai karakteristik dan keunggulan wilayah.

“Tidak semua tempat harus menanam komoditas yang sama, tidak semua kelompok harus menggunakan pola yang sama. Justru kekuatan Lumbung Mataraman terletak pada kemampuannya membaca potensi lokal, kemudian mengembangkannya menjadi sumber pangan dan kesejahteraan,” ungkap Noviar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.