Jogja

Tanggapi Kawat Berduri di Sumbu Filosofi, Pemda DIY Dorong Pengamanan Wisata yang Lebih Humanis

Atiek Widyastuti | 3 November 2026, 16:15 WIB
Tanggapi Kawat Berduri di Sumbu Filosofi, Pemda DIY Dorong Pengamanan Wisata yang Lebih Humanis
Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. - Akurat.co/Atiek Widyastuti

Akurat.co, Jogja - Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Made Dwipanti Indrayanti angkat bicara terkait polemik pemasangan kawat berduri oleh pihak kepolisian di kawasan Titik Nol Kilometer.

Hal tersebut juga langsung menuai polemik di kalangan masyarakat. Termasuk oleh warganet.

Di sisi lain Pemda DIY juga mengapresiasi langkah kepolisian dalam upaya menjaga keamanan di wilayah DIY.

"Termasuk di kawasan yang masuk cagar budaya," ungkapnya, Selasa (03/11/2026).

Meski demikian ia berharap, setiap langkah pengamanan di kawasan cagar budaya dapat dikoordinasikan terlebih dahulu dengan berbagai pihak terkait.

Sebelum digelar simulasi pengamanan sebaiknya ada koordinasi terlebih dahulu antara pihak kepolisian dengan Pemda DIY.

Pemda DIY sangat menghargai dan memahami tugas kepolisian untuk menjaga keamanan wilayah.

"Tapi memang ketika ini bicaranya di kawasan heritage, kawasan cagar budaya, saya kira ini menjadi berbeda, seperti itu. Sehingga harapan besar kami, ini kan inisiatif dari kepolisian ya, untuk memasang kawat berduri itu mungkin sebagai latihan atau apa ya, soalnya kami belum diberitahu untuk berkaitan dengan hal itu, mungkin perlu penekanan di sisi koordinatif,” tegasnya.

Ni Made berharap, ke depan, setiap langkah pengamanan di kawasan Yogyakarta dapat dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak-pihak terkait.

Ini penting untuk mengantisipasi munculnya persepsi mengenai pengamanan yang berlebihan di tengah masyarakat.

“Mungkin kami berharap ke depannya hal-hal yang seperti ini kita kuatkan koordinasinya. Sehingga ketika ada langkah-langkah persuasif yang dilakukan, ini kami bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin dianggap sebagai persepsi terjadinya penjagaan yang berlebihan. Ini yang mungkin juga kami berharap bahwa ke depan tingkat koordinatifnya lebih diperkuat,” lanjut Ni Made.

Menurut Ni Made, koordinasi antarpihak perlu dilakukan dengan mengedepankan pendekatan yang humanis serta mempertimbangkan karakteristik kawasan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat dan wisatawan.

Terlebih, Titik Nol Kilometer merupakan bagian dari kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta yang terhubung dengan kawasan Malioboro dan ramai dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.

“Jadi ketika ada pihak-pihak yang punya niat baik, mestinya ya juga seperti itu, mungkin bisa berkoordinasi dengan kita. Karena itu kan termasuk kawasan sumbu filosofis, kawasan Malioboro, banyak pengunjung, banyak wisatawan. Jadi bagaimana kemudian ketika akan dilakukan tindakan preventif dan lain-lain, itu mungkin perlu ada koordinasi yang humanis, yang bisa diterima oleh semua,” jelas Ni Made.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.