Jogja

Hingga November 2026, 2 Warga Sleman Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis

Atiek Widyastuti | 5 November 2026, 15:07 WIB
Hingga November 2026, 2 Warga Sleman Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis
Kabid P2PL Sleman saat menjelaskan mengenai kasus Leptospirosis. - Akurat.co/Atiek Widyastuti

Akurat.co, Jogja - Kasus Leptospirosis di Kabupaten Sleman mengalami kenaikan dari 2025 ke 2026. Hingga November 2026, Dinkes Sleman mencatat ada 112 positif Leptospirosis. Sedangkan tahun lalu pada periode yang sama terdapat 102 kasus.

Dari 112 yang positif, dua diantaranya meninggal dunia. Sedangkan dua yang masuk kategori suspect juga dinyatakan meninggal dunia.

"Untuk kasus meninggal dunia turun dibanding tahun lalu," kata Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman dr Khamidah Yuliati dalam jumpa pers di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Kamis (05/11/2026).

Dari 112 yang positif Leptospirosis tersebut, paling banyak ditemukan di lingkungan kerja Puskesmas Ngemplak 2. Dengan 25 kasus.

Baca Juga: Bantuan Hukum Gratis Sleman, Inovasi BAHU TEMAN Masuk Nominasi SDGs

"Di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak 2 memang masih didominasi persawahan. Namun, kasus yang ditemukan justru banyak di lingkungan perumahan," jelasnya.

Wilayah kedua dengan kasus terbanyak Leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Gamping 2 dengan 16 kasus. Sedangkan dua yang meninggal dunia, dari wilayah Puskesmas Gamping 1 dan Cangkringan.

"Dua suspect yang meninggal dunia juga dari wilayah kerja Puskesmas Gamping 1," ungkapnya.

Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Dapat menular melalui kontak dengan air, tanah atau lingkungan yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi. Terutama tikus. Melalui kulit yang terluka atau selaput lendir mulut, hidung atau mata.

Baca Juga: 6 Kasus Leptospirosis Ditemukan di Kota Jogja

Pada musim hujan, risiko paparan dapat meningkat ketika masyarakat beraktivitas di lingkungan yang tergenang air. Seperti saluran drainase, sawah, kebun atau lokasi yang berpotensi tercemar urine tikus.

Untuk itu, di himbau masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan air hujan atau genangan yang berpotensi tercemar.,

Jika harus melakukan aktivitas di lingkungan tersebut, gunakan alat pelindung diri. Seperti sepatu bot dan sarung tangan tahan air. Pastikan menutup luka dengan pelindung kedap air, serta segera bersihkan tubuh setelah terpapar lingkungan yang berisiko.

"Jika mengalami demam mendadak, nyeri otot terutama pada petis, sakit kepala atau keluhan lain setelah terpapar air atau lingkungan yang berisiko. Segera periksakan ke fasilitas kesehatan," jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.