Jogja

Dosen UMY Ungkap Penyebab Boikot RANS Carnival Yogyakarta

Haris Ma'ani | 3 November 2026, 08:12 WIB
Dosen UMY Ungkap Penyebab Boikot RANS Carnival Yogyakarta
Foto ilustrasi boikot RANS Carnival di Yogyakarta. -foto: AI

Akurat.co,Jogja-Akhir pekan kemarin ramai di media sosial terkait aksi boikot acara RANS Carnival di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.

Pelaku UMKM yang terlibat, sampai musisi ramai-ramai memutuskan tidak ikut dalam kegiatan yang sedianya 31 Oktober–1 November 2026.

Menjelang pelaksanaannya, sejumlah musisi, antara lain Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, dan OM Wawes, mengumumkan pengunduran diri. Alasan yang disampaikan beragam, termasuk pertimbangan keamanan, kenyamanan, dan situasi masyarakat.

Baca Juga: Dukung 19 Juta Lapangan Kerja Pemerintah, UMY Kembangkan 33 Startup

Seruan boikot menguat setelah kehadiran Raffi Ahmad dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Kamis (29/10/2026), menuai kritik.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengamat media, Dr. Fajar Junaedi menilai fenomena tersebut dapat dikaji melalui konsep cancel culture atau budaya pembatalan.

Fajar menjelaskan bahwa tekanan opini publik dapat memengaruhi cara individu maupun kelompok menyampaikan pendapat, memberikan dukungan, dan menentukan keterlibatan dalam suatu kegiatan.

Dikutip dari laman resmi UMY, ia merujuk pada penelitian Pippa Norris berjudul “Cancel Culture: Myth or Reality?” yang terbit dalam jurnal Political Studies edisi 2023.

Penelitian tersebut membahas hubungan antara kesesuaian nilai individu dengan budaya dominan kelompok dan persepsi terhadap pembungkaman pendapat.

Fajar mengaitkan fenomena tersebut dengan teori spiral of silence atau spiral keheningan yang diperkenalkan Elisabeth Noelle-Neumann.

Teori ini menjelaskan kecenderungan seseorang menahan pendapat ketika merasa pandangannya berbeda dari opini yang dipersepsikan dominan.

"Ketika seseorang merasa pendapatnya berbeda dari suara mayoritas, muncul kecenderungan untuk diam karena khawatir menghadapi tekanan sosial.

Akibatnya, suara mayoritas semakin terlihat dominan, sementara kelompok yang berbeda semakin sulit menyampaikan pandangannya,” jelasnya.

Dalam konteks Yogyakarta, Fajar menilai dinamika penolakan terhadap RANS Carnival berkaitan dengan situasi sosial masyarakat setelah rangkaian demonstrasi mahasiswa.

Menurutnya, isu kekuasaan, solidaritas, dan aspirasi masyarakat menjadi bagian dari konteks yang memengaruhi penilaian terhadap figur publik.

“Ketika seorang figur atau kelompok dipersepsikan tidak sejalan dengan nilai yang sedang menguat disuatu komunitas, mereka berpotensi ditempatkan sebagai pihak yang dianggap berbeda dari norma sosial setempat.

Dalam kajian Norris, kondisi semacam ini dapat dipahami melalui konsep fish-out-of-water, yakni situasi ketika seseorang merasa tidak berada dalam lingkungan nilai yang sesuai dengan dirinya,” jelas Fajar.

Ia menilai tekanan sosial tidak hanya muncul melalui komentar dan seruan di media sosial. Hubungan antarkomunitas juga dapat memperkuat penyebaran opini dan mendorong pengambilan sikap.

Meski demikian, keputusan setiap musisi untuk mundur perlu dibaca berdasarkan pernyataan masing-masing.

Manajemen Guyon Waton, misalnya, menegaskan bahwa keputusannya mempertimbangkan kondusivitas, keamanan, kenyamanan masyarakat, dan hubungan baik dengan seluruh pihak.

Menurut Fajar, hubungan dengan komunitas menjadi salah satu pertimbangan penting bagi musisi maupun pelaku usaha. Karena itu, keputusan untuk terlibat dalam suatu kegiatan dapat mencakup pertimbangan sosial, selain bisnis dan reputasi.

Fajar menilai kasus RANS Carnival memperlihatkan hubungan antara opini publik, norma komunitas, dan keputusan individu maupun kelompok.

Baca Juga: Apa Itu Beras Fortifikasi? Dosen UMY Jelaskan Pengertian dan Dampaknya jika Tak Sesuai Kandungan

Namun, analisis tersebut perlu tetap memperhatikan keragaman alasan para pihak serta membedakan opini yang dominan di media sosial dari pandangan seluruh masyarakat Yogyakarta.

"Cancel culture bukan sekadar retorika kosong. Dalam konteks Yogyakarta, kuatnya budaya komunitas dan situasi sosial pascademonstrasi membuat penolakan terhadap RANS Carnival berkembang menjadi bentuk sanksi sosial dari publik," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.