Pakar UGM Ungkap Penyebab Longsor Banjarnegara yang Tewaskan 11 Warga

Akurat.co,Jogja-Pakar Geologi UGM, Prof Wahyu Wilopo mengungkap penyebab longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang menewaskan 11 warga.
Selain menewaskan 11 orang, 17 orang dinyatakan hilang, dan 182 bagunan rumah rusak.
Wahyu menyebut daerah yang rawan terjadinya longsor adalah daerah yang mempunyai lereng curam yang tersusun oleh material gembur atau batuan retak-retak.
Guru Besar Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM ini mengungkap, longsor mematikan biasanya diawali dengan luncuran atau rotasional yang kemudian berubah menjadi aliran cepat akibat tingginya kejenuhan tanah setelah hujan intens.
Baca Juga: Newsfluencer Berkembang Pesat di Indonesia, Pakar UGM Ungkap Fakta Tak Terduga
Karena itu masyarakat perlu memahami tanda-tanda awal longsor seperti retakan tanah, pohon miring, amblesan, air keruh di kaki lereng, atau guguran tanah.
“Biasanya akan ada getaran dan suara gemuruh untuk longsor yang cukup besar,” katanya.
Keharusan sistem peringatan dini
Menurut Wahyu, salah satu perhatian utama terkait peristiwa ini adalah keharusan pemasangan sistem peringatan dini longsor yang efektif.
Berbeda dengan tsunami atau banjir, sistem peringatan dini longsor bersifat sangat lokal sehingga memerlukan anggaran besar serta dukungan teknis dan SDM untuk operasional harian.
Wahyu menjelaskan bahwa standar SNI menetapkan perlunya sensor penakar curah hujan dan sensor deformasi lereng, namun banyak sistem di lapangan tidak berfungsi karena kurang perawatan.
“Permasalahan di lapangan adalah sistem yang sering tidak terawat akibat keterbatasan dan kekurangan SDM yang bertugas mengelola,” jelasnya.
Selain itu, relokasi warga dari kawasan rentan longsor bukan tugas mudah karena menyangkut faktor ekonomi, sosial, hingga budaya yang melekat pada lokasi asal.
Upaya evakuasi juga kerap terhambat oleh kondisi medan, cuaca, aksesibilitas yang minim, dan tidak adanya SOP evakuasi yang dipahami warga.
Baca Juga: Peneliti UGM Kenalkan Beras Presokazi, Rasa Pulen dengan Kandungan Zat Besi dan Seng Penuh Gizi
Situasi diperparah dengan fenomena ‘wisata bencana’ yang menyebabkan kemacetan dan menghambat mobilisasi petugas.
“Masyarakat juga tidak pernah atau jarang mengikuti gladi evakuasi bencana longsor sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan,” terang Wahyu.
Langkah pencegahan dapat dilakukan masyarakat dengan melandaikan lereng, membuat drainase permukaan, memperkuat lereng, hingga menanam vegetasi akar kuat.
Wahyu juga mengingatkan agar pembangunan rumah memperhatikan jarak aman dari lereng untuk mengurangi risiko ketika terjadi longsor.
“Sebaiknya bangun rumah dua kali tinggi lereng atau tempatkan kamar tidur pada lokasi yang terjauh dari lereng,” paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 15 Fakta Penting Demo 2 Tahun Prabowo Gibran di Jogja, Berakhir Rusuh, Massa Duduki DPRD hingga Malam
- 2Muhammadiyah Desak Hukum Tegas Pelaku Karhutla Tanpa Pandang Bulu
- 3Jogja Makin Panas Menyengat! BMKG Ungkap Arti Grafik 'Warming Stripes' dan Pemicunya
- 4Dikira Santri, Ini 5 Fakta Menarik Dosen FISIP UGM Media Wahyudi Askar
- 5Hasil BRI Super League: Kalah 5 Laga Beruntun, PSIM Ingin Bangkit di Laga Berikut
- 6Yashinta: Ekonomi Kreatif DIY Terhambat Perda
- 7Lahan UPN Yogyakarta yang Kena Tol Tiba-tiba Bertambah, Rektor Buka Suara
- 8Waspada! Satu dari 5 Anak Indonesia Alami Obesitas, Dosen UMY Ungkap Penyebabnya
- 9Buang Sampah di Sungai, Warga Kota Jogja Bakal Kena Sanksi
- 1030 Tempat Kuliner Jogja Terkenal Enak, Siap Manjakan Lidahmu









