Belajar Longsor Cilacap, Guru Besar UGM Sebut Retakan 'Tapal Kuda' Bisa Jadi Pertanda

Akurat.co, Jogja - Tanah longsor menimpa warga di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, Kamis (13/11/2025) malam lalu.
Hingga Sabtu (15/11/2025) petang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 12 jiwa jadi korban dalam bencana ini. Dan 12 jiwa masih dalam pencarian.
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Prof Dwikorita Karnawati, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor di puncak musim hujan.
Ia menegaskan bahwa kemunculan retakan tanah berbentuk melengkung menyerupai 'Tapal Kuda' pada lereng merupakan indikator awal paling penting sebelum tanah bergerak dan longsor terjadi.
Baca Juga: BPBD Jogja Ingatkan Potensi Banjir dan Tanah Longsor, Kelompok Tangguh Bencana Dioptimalkan
“Retakan tapal kuda terbentuk pada batas antara lereng yang masih stabil dan bagian yang mulai bergeser. Begitu retakan ini muncul, risiko longsor meningkat signifikan,” ujar Dwikorita lewat keterangan tertulisnya, Minggu (16/11/2025).
Berbeda dengan gempa atau tsunami, longsor umumnya didahului gejala awal. Retakan memanjang berbentuk lengkung di atas lereng adalah sinyal yang harus segera diinspeksi oleh masyarakat, aparat desa, relawan kebencanaan, maupun pemerintah daerah, terutama saat wilayah sedang dilanda hujan intens.
Jika retakan 'tapal kuda' ditemukan, Dwikorita meminta agar aktivitas warga di area bawah lereng segera dihentikan. Warga diminta pindah ke lahan datar dengan jarak aman minimal dua kali tinggi lereng, terutama ketika hujan mulai turun.
Dwikorita juga menekankan pentingnya penanganan cepat saat cuaca cerah. Retakan perlu langsung ditutup menggunakan material kedap air atau tanah lempung agar air hujan tidak merembes ke dalam lereng. Peningkatan tekanan air di dalam tanah merupakan penyebab utama pergeseran massa tanah dan pemicu longsor.
“Semakin banyak air yang meresap, semakin besar dorongan dari dalam lereng hingga akhirnya tanah meluncur,” jelas Dwikorita.
Baca Juga: Transportasi Online Bajaj Dilarang di Kota Yogyakarta, Bentor Juga
Selain retakan tapal kuda, Dwikorita menyebutkan gejala lain juga sering muncul sebelum lereng mengalami longsor. Seperti pohon, tiang, atau bangunan yang tiba-tiba miring ke arah bawah lereng merupakan salah satu tanda awal pergerakan tanah.
Munculnya rembesan air atau mata air baru pada permukaan lereng juga menunjukkan adanya peningkatan tekanan air di dalam tanah.
Selain itu, lereng yang tampak menggembung, tanah yang turun atau amblas, serta retakan pada lantai dan dinding bangunan di sekitar lokasi menandakan struktur tanah mulai melemah. Bahkan pintu atau jendela rumah yang tiba-tiba sulit dibuka bisa menjadi sinyal pergeseran pondasi.
Apabila muncul jatuhan tanah atau kerikil dari bagian atas lereng, terutama bila terdengar suara gemuruh, warga harus segera mengosongkan area tersebut karena kondisi tersebut menandakan longsor dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dwikorita menambahkan, kewaspadaan ekstra penting diterapkan pada wilayah yang sedang dilakukan pencarian korban.
Baca Juga: Hadapi Bencana, BPBD Sleman Siapkan Program Strategis
Curah hujan tinggi pada periode ini membuat potensi longsor susulan tetap besar di berbagai daerah.
“Pengamatan dini dan respons cepat adalah kunci untuk mencegah jatuhnya korban baru,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









