Jogja

Aliansi Peduli Petani Sleman Curhat Ke DPRD DIY, Soal Apa?

Yudi Permana | 25 Agustus 2025, 15:08 WIB
Aliansi Peduli Petani Sleman Curhat Ke DPRD DIY, Soal Apa?

Akurat.co, Jogja - Puluhan petani yang tergabung dalam Aliansi Peduli Petani Sleman mendatangi gedung DPRD DIY, Senin (25/08/2025).

Mereka adalah petani yang sehari-harinya memanfaatkan air dari saluran Selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram Oktober untuk irigasi.

Kedatangan mereka ke gedung wakil rakyat ini, terkait wacana penutupan Selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram Oktober nanti.

Padahal sebelumnya telah ada kesepakatan jika penutupan selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram Oktober itu dilakukan pada Bulan November setiap lima tahun sekali. Terhitung mulai November 2029.

Baca Juga: Tak Cuma Singkong Gunungkidul, Gerakan Sosial Masjid Nurul Ashri Sleman Juga Bantu Petani Sayur hingga Air Bersih di NTT

Berita acara mengenai pengaturan buka tutup selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram tersebut dilakukan Jumat, 25 Oktober 2024 lalu.

"Tiba-tiba beredar di WA grup kalau selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram akan ditutup Oktober nanti," kata Herman JP Maryanto selaku sekretaris dari aliansi.

Penutupan Selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram akan berdampak signifikan pada kekeringan lahan pertanian. Baik tanaman pangan dan hortikultura, kekurangan penyediaan air untuk petani ikan dan persedian air sumur.

"Kami tidak menghalangi Selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram. Namun air harus tetap mengalir, sehingga petani bisa tetap beraktivitas," tegasnya.

Dan selama ini dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) tidak pernah melibatkan petani saat sosialisasi.

Baca Juga: Di Sleman, Kementan Lepas Ekspor Komoditas Pertanian Senilai Rp 1,1 Miliar

"Kami merasa BBWSSO telah mencederai isi dari kesepakatan tahun lalu. Air adalah urat nadi dan hidup nadi petani," ungkapnya.

Ketua DPRD DIY Nuryadi meminta kepada Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) untuk tetap mempertimbangkan permintaan petani. Jika memang pemeliharaannya kecil, airnya tidak perlu sampai dimatikan.

"Harus ada komunikasi lagi. Dari BWSSO, petani dan juga Pemda setempat. Jika memang tetap harus ada pemeliharaan, setidaknya airnya bisa tetap mengalir," jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.