Petani Diuntungkan Kenaikan Harga Beras

Akurat.co,Jogja-Kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti beras di satu sisi membebani masyarakat.
Tapi di sisi lain malah menguntungkan petani karena nilai tukar petani (NTP) meningkat.
Fenomena ini tertangkap dari laporan inflasi yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Oktober 2026. Tercatat, inflasi DIY sebesar 0,27 persen. Inflasi disebabkan kenaikan komoditas pangan, seperti beras dan cabai.
Baca Juga: Tekan Inflasi, Sleman dan Magelang Resmikan Kerja Sama Gendhon Rukun
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, NTP pada Oktober 2026 mencapai 114,33 atau meningkat 0,44 persen dibandingkan September 2026 yang sebesar 113,82.
Kenaikan ini mengindikasikan harga yang diterima petani dari hasil produksinya meningkat lebih tinggi dibandingkan harga barang dan jasa yang harus dibayarkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun biaya produksi.
Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan inflasi Oktober 2026 terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 0,81 persen dengan andil sebesar 0,23 persen terhadap inflasi bulanan.
Komoditas cabai merah, tomat, beras, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama kenaikan harga.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi penurunan produksi pangan di sejumlah wilayah akibat faktor musim dan cuaca.
Selain itu, kenaikan tarif akademi atau perguruan tinggi turut memberikan andil terhadap inflasi.
Sebaliknya, penurunan harga emas perhiasan serta sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras dan telur ayam ras membantu menahan laju inflasi.
Menurut Endang, penurunan produksi sejumlah komoditas pangan akibat faktor musim dan cuaca menjadi salah satu penyebab kenaikan harga pada Oktober.
Meski demikian, inflasi DIY secara kumulatif sepanjang Januari-Oktober 2026 tercatat sebesar 2,08 persen.
Di sisi lain, peningkatan NTP DIY ditopang kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,34 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,90 persen.
Kenaikan harga hasil produksi pertanian terutama berasal dari cabai merah, gabah, ketela pohon, dan salak.
Baca Juga: Efek El Nino, Kenaikan Harga Beras Dorong Inflasi DIY September 2026
Endang menjelaskan, peningkatan NTP menunjukkan kenaikan harga hasil produksi yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga barang dan jasa yang harus mereka bayar.
Meski demikian, perkembangan daya tukar petani tidak berlangsung seragam karena dipengaruhi dinamika harga pada masing-masing subsektor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 2PWI DIY Terus Perjuangkan Gelar Pahlawan Nasional bagi Udin
- 3DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 4Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...
- 5Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 6DPRD DIY Siap Bahas Anggaran DED Renovasi Stadion Mandala Krida
- 7Dulu Saluran Pengairan, Tuk Bulus Sleman Kini Jadi Tempat Wisata Unggulan
- 8116 Orang Jadi Korban Demonstrasi Jogja Memanggil, Ini Respons Pemkot
- 9Dosen UMY Ungkap Penyebab Boikot RANS Carnival Yogyakarta
- 10Fenomena Warga Miskin RI, Beli Rokok Lebih Utama ketimbang Makanan Bergizi






