Fenomena Bediding Mulai Dirasakan Warga Jogja, Ini Penjelasannya

Akurat.co,Jogja- Fenomena bediding atau suhu dingin mulai dirasakan warga Kota Jogja belakangan ini.
Masyarakat merasakan kondisi cuaca yang ditandai suhu udara terasa dingin pada malam hingga pagi hari, namun berubah menjadi sangat panas pada siang hari.
Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPB+D) Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko mengatakan, fenomena bediding yang kini mulai dirasakan masyarakat merupakan kondisi yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau.
Penyebab utamanya adalah berkurangnya tutupan awan sehingga panas matahari pada siang hari mudah masuk ke permukaan bumi.
Sebaliknya, pada malam hari panas yang tersimpan di permukaan bumi juga lebih cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara menjadi lebih dingin.
Kondisi tersebut diperkuat dengan bertiupnya angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Akibatnya, masyarakat merasakan perbedaan suhu yang cukup ekstrem," terangnya dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja.
Pada malam hingga pagi hari udara terasa dingin dengan suhu berkisar 19 hingga 21 derajat Celsius.
Sedangkan pada siang hari suhu dapat mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius.
Iswari menambahkan, perubahan suhu yang cukup tajam tersebut dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
Udara yang lebih kering dan berdebu berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk, flu, iritasi saluran pernapasan, serta menurunkan daya tahan tubuh.
Di sisi lain, suhu yang tinggi pada siang hari juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heat stroke, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Selain dampak terhadap kesehatan, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran.
Vegetasi yang mulai mengering, suhu udara yang tinggi, serta hembusan angin yang cukup kencang membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kelalaian.
"Kami menghimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering," ujarnya.
Menghadapi cuaca ekstrem begini, BPBD Kota Yogyakarta juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui sosialisasi di berbagai kemantren serta kegiatan Kampung Tangguh Bencana.
Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat agar penanganan terhadap potensi bencana selama musim kemarau dapat dilakukan secara cepat dan terpadu.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sleman dan Bantul Sudah Musda, Golkar Gunungkidul Justru Mandek
- 2Oase Malioboro Siap Sambut Wisatawan di Libur Akhir Tahun
- 3DIY Hujan di Musim Kemarau, BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem
- 4PWI DIY Terus Perjuangkan Gelar Pahlawan Nasional bagi Udin
- 5DIY Siapkan 203 Event Sepanjang 2027
- 6Didukung Srikandi PLN, KWT di Sleman Kembangkan Kerupuk Susu Kambing
- 7DPRD DIY Siap Bahas Anggaran DED Renovasi Stadion Mandala Krida
- 8Pemda DIY Perkuat TPKJM untuk Layanan Kesehatan Jiwa Inklusif
- 9Mahasiswa UAJY Ciptakan Masker Biomaterial Pencegah Debu Silika Industri
- 10Bongkahan Es Sebesar Kelapa Timpa Rumah Warga di Bantul, Ini Faktanya...







