Jogja

Kerap Tak Disadari, Dosen FK UMY Ungkap Tanda Awal Kena Burnout

M. Mubin Wibawa | 26 Januari 2026, 20:05 WIB
Kerap Tak Disadari, Dosen FK UMY Ungkap Tanda Awal Kena Burnout

Akurat.co,Jogja-Dosen Fakultas Kedokteran UMY, dr. Rr. Tesaviani Kusumastiwi, Sp.KJ mengungkap tanda awal burnout atau kelelahan yang kerap tak disadari penderita.

Menurutnya, penderita kerap tak menyadarinya karena dianggap kelelahan biasa.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Uji Materi UU LLAJ Mahasiswa UMY ke MK, Bermula dari Kecelakaan Akibat Puntung Rokok

Padahal, menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY sekaligus spesialis kedokteran jiwa, burnout merupakan kondisi serius yang dapat mengancam kualitas hidup seseorang, baik secara fisik maupun psikis.

Menurut Tesaviani, tanda-tanda awal burnout sering kali tidak disadari karena individu cenderung menyangkal kondisi psikis yang dialami.

Namun, tubuh justru memberikan sinyal melalui berbagai keluhan fisik.

“Bangun tidur tetapi masih merasa lelah, cepat capek meskipun melakukan aktivitas ringan, nyeri kepala atau otot, gangguan pencernaan, hingga gangguan hormonal seperti menstruasi yang tidak teratur, itu bisa menjadi tanda awal burnout,” papar Tesviani dikutip dari laman resmi UMY, Senin (26/1/2026).

Dari sisi psikis, burnout ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta gangguan tidur.

Kondisi ini banyak dialami oleh mahasiswa maupun pekerja dengan tuntutan akademik dan beban kerja yang tinggi.

Ia menegaskan bahwa tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental.

Ancaman burnout ini dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam tubuh yang berdampak langsung pada kualitas tidur, sehingga tubuh gagal melakukan proses pemulihan secara optimal.

Baca Juga: Dialami Aurelie Moeremans, Psikolog UMY Ungkap Child Grooming Kerap Tak Disadari Korban

Sebagai langkah pencegahan, Tesaviani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta antara tuntutan eksternal dan penghargaan terhadap diri sendiri.

“Jika upaya menyeimbangkan aktivitas dan istirahat sudah dilakukan tetapi burnout masih dirasakan, jangan ragu untuk mengomunikasikannya kepada profesional, baik psikolog maupun psikiater, agar sumber burnout dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.