Jogja

Angkat Tema ‘Threads of Tomorrow’, Jogja Fashion Week 2025 Hadirkan 160 Desainer dengan 1.000 Lebih Karya

Yudi Permana | 8 Agustus 2025, 08:05 WIB
Angkat Tema ‘Threads of Tomorrow’, Jogja Fashion Week 2025 Hadirkan 160 Desainer dengan 1.000 Lebih Karya



Akurat.co, Jogja
- Ajang fesyen tertua di Indonesia, Jogja Fashion Week (JFW) 2025 resmi dibuka, Kamis (07/08/2025).

Berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) Bantul, JFW 2025 akan berlangsung hingga Minggu, 10 Agustus 2025.

Dibuka langsung oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, JWF 2025 yang telah masuk tahun ke-20 ini mengusung tema 'Threads of Tomorrow'.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati, 'Threads of Tomorrow' menggambarkan benang-benang harapan, inovasi dengan semangat berkelanjutan yang diharapkan dapat menenun masa depan dunia fesyen Indonesia.

Baca Juga: Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto Kagumi Gunungkidul sebagai Lumbung Benih, Atasi Alam yang Menantang

Tak sebatas kain dan desain belaka, 'Threads of Tomorrow' juga bicara tentang bagaimana fesyen dapat jadi podium guna membangun masa depan yang lebih inovatif, inklusif dan keberpihakan pada berkelanjutan.

"Tema tersebut menggambarkan wajah baru dunia fashion yang dinamis, perpaduan antara warisan budaya, inovasi teknologi dan kreativitas tanpa batas. Sekaligus menunjukkan komitmen terhadap bumi dan kehidupan didalamnya," katanya.

Tak kurang dari 12 sesi fashion show, lebih banyak dua sesi dibanding tahun sebelumnya.
JFW 2025 menghadirkan 160 desainer yang akan mempresentasikan lebih dari 1.000 karya mode.

JFW 2025 juga akan menghadirkan empat desainer ternama yang akan menunjukkan karyanya. Satu diantaranya adakah Ivan Gunawan.

Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam sambutannya yang dibacakan Wagub DIY KGPAA Paku Alam X mengatakan, tema JWF tahun ini sangat relevan dengan tantangan zaman.

Dunia mode tak lagi hanya soal estetika, tetapi juga medium perubahan yang menjahit harapan baru, menganyam keberlanjutan dan merajut identitas yang progresif.

Di tengah krisis iklim, perubahan selera generasi, serta tuntutan inovasi digital, JFW menghadirkan jawaban: bahwa tradisi dan teknologi bukan dua kutub yang berlawanan, melainkan bisa dipadukan untuk mencipta masa depan yang lestari.

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi DIY Tertinggi di Jawa

Di sinilah peran kearifan lokal menjadi penting. Nilai-nilai budaya Yogyakarta, seperti keselarasan, kelestarian, dan welas asih terhadap alam menjadi fondasi yang kokoh dalam membangun ekosistem mode yang berkelanjutan.

Pewarna alami, teknik tenun tradisional dan prinsip produksi ramah lingkungan adalah wujud konkret bagaimana kita menjaga bumi melalui desain.

"Kita patut berbangga bahwa para desainer dan pelaku UMKM kreatif DIY mampu membuktikan bahwa inovasi tidak harus menanggalkan jati diri," jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.