Jogja

15 Tahun Tersimpan, UGM Kembalikan Artefak ke Masyarakat Warloka Labuan Bajo

Yudi Permana | 19 Juli 2025, 08:30 WIB
15 Tahun Tersimpan, UGM Kembalikan Artefak ke Masyarakat Warloka Labuan Bajo

Akurat.co, Jogja-Setelah 15 tahun lamanya tersimpan, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembalikan artefak ke masyarakat Warloka, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Benda warisan budaya itu diserahkan Departemen Arkeologi dan Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Senin (14/7/2025) silam.

Koleksi yang dikembalikan meliputi 40 kilogram artefak hasil ekskavasi yang terbagi menjadi 15 kategori, termasuk perhiasan, alat bantu, keramik, gerabah, koin, serta sisa-sisa kerangka dari tiga individu leluhur.

Baca Juga: Berikut Sejumlah Agenda Akhir Pekan Di Jogja, Dari Pasar Kangen Hingga Pameran Seni

Benda-benda ini merupakan hasil penggalian yang dilakukan 15 tahun lalu yang selama ini disimpan di UGM untuk kebutuhan riset.

Proses repatriasi ini menjadi langkah yang menegaskan pentingnya tanggung jawab etis dalam kegiatan akademik, termasuk refleksi atas posisi peneliti dan prinsip keadilan dalam berbagi pengetahuan dan manfaat riset.

Dr. Tular Sudarmadi selaku ketua tim repatriasi menyampaikan bahwa warisan budaya seharusnya tidak dikelola dengan pendekatan eksploitatif yang bersumber dari praktik kolonial.

Ia menegaskan bahwa sebagai akademisi, penting untuk membangun relasi setara dengan komunitas yang menjadi subjek penelitian.

Kini, UGM tengah merancang pedoman universitas untuk tata kelola benda hasil ekskavasi arkeologis, yang akan menjadi inisiatif pertama di Indonesia.

"Saya merasa memiliki kewajiban moral untuk mengembalikan benda-benda ini kepada Komunitas Warloka,” ujarnya dikutip dari ugm.ac.id.

Dosen FIB lainnya, Dr. Rucitarahma Ristiawan, menambahkan bahwa pemulangan artefak kepada komunitas asal merupakan langkah penting menuju keadilan epistemik.

“Repatriasi ini mengakui nilai sistem pengetahuan lokal dan memperkuat hak komunitas untuk menarasikan sejarahnya sendiri,” terangnya.

Selain dibantu oleh mahasiswa pascasarjana Arkeologi UGM, Oto Alcianto, kegiatan ini turut melibatkan dukungan dari University of Glasgow melalui peneliti art crime dan kriminologi, Dr. Emiline Smith.

“Kegiatan ini juga menegaskan perlunya dukungan pemerintah yang lebih kuat untuk membantu institusi mengelola penyimpanan dan pengembalian sisa-sisa leluhur serta warisan budaya secara hormat,” tuturnya.

Baca Juga: Ombudsman RI Sidak Gabungan Beras Oplosan, Temukan Ini… 

Sisa kerangka leluhur nantinya akan dimakamkan kembali sesuai dengan adat dan kepercayaan masyarakat Warloka.

Di samping itu, artefak budaya akan disimpan sementara di Dinas Pariwisata setempat sambil menunggu pembangunan ruang pamer khusus di Warloka.

Dinas Pariwisata dan komunitas turut menggunakan momentum tersebut untuk mengedukasi wisatawan tentang sejarah lokal serta pentingnya riset kolaboratif dalam pelestarian warisan budaya.

Komunitas juga berkomitmen untuk meningkatkan perlindungan terhadap temuan arkeologis di kawasan tersebut.

"Anggota keluarga kami akhirnya pulang setelah 15 tahun,” ungkap salah satu warga Warloka dengan haru.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.