Apa Itu Beras Fortifikasi? Dosen UMY Jelaskan Pengertian dan Dampaknya jika Tak Sesuai Kandungan

Akurat.co,Jogja-Ramai di masyarakat terkait keberadaan beras fortifikasi palsu.
Perkara ini mencuat setelah Bareskrim Polri mengumumkan peningkatan perkara dugaan pelanggaran dalam produksi dan perdagangan beras fortifikasi ke tahap penyidikan, Rabu (21/10/2026).
Penyidik menyatakan telah menemukan sedikitnya dua alat bukti serta menyita 1.194 kemasan beras dengan berat total 6.405 kilogram.
Baca Juga: Kenapa Beras jadi Penyumbang Inflasi Terbesar DIY September 2026?
Menurut keterangan Bareskrim, pengambilan sampel bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan pengujian laboratorium menemukan lima merek beras yang diduga memiliki mutu serta kandungan gizi tidak sesuai dengan label kemasan.
Perkara yang melibatkan produk PT DTA tersebut masih dalam proses penyidikan.
Apa itu beras fortifikasi dan dampaknya jika kandungan tak sesuai?
Sebenarnya apa sih beras fortifikasi itu, apa bedanya dengan beras biasa?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, Ade Erni menjelaskan bahwa beras fortifikasi merupakan beras yang ditambahkan zat gizi tertentu, seperti vitamin dan mineral, untuk membantu meningkatkan asupan gizi masyarakat.
Menurut Ade, informasi pada kemasan harus sesuai dengan kandungan aktual produk agar konsumen mengetahui jenis dan jumlah zat gizi yang ditambahkan.
Kesesuaian tersebut juga penting untuk mendukung tujuan fortifikasi.
“Kalau misalnya dikatakan bahwa beras tersebut ditambahkan vitamin atau zat gizi tertentu dalam jumlah tertentu, maka yang terkandung di dalam produk tersebut memang harus sesuai dengan informasi tersebut,” jelasnya dikutip dari laman resmi UMY,Sabtu (24/10).
Ade menjelaskan bahwa kandungan zat gizi yang lebih rendah daripada informasi pada kemasan dapat membuat kontribusi produk terhadap pemenuhan kebutuhan gizi lebih kecil dari perkiraan.
Hal tersebut perlu diperhatikan apabila produk dikonsumsi secara rutin, sementara konsumen tidak mendapatkan cukup zat gizi dari makanan lain.
Sebaliknya, kandungan aktual yang lebih tinggi daripada informasi pada label dapat membuat asupan zat gizi melebihi perkiraan.
Dalam kondisi tertentu, kelebihan asupan vitamin atau mineral dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Namun, dampaknya bergantung pada jenis zat gizi, jumlah yang dikonsumsi, lama konsumsi, dan kondisi individu.
"Kalau kandungan mikronutriennya lebih rendah daripada yang tertulis di luar kemasan, tujuan dan manfaat fortifikasi itu tidak tercapai sesuai dengan yang diharapkan,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa ketidaksesuaian kandungan produk tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami kekurangan atau kelebihan zat gizi.
Penilaiannya perlu mempertimbangkan hasil pengujian produk, pola konsumsi, serta asupan dari makanan dan sumber lainnya.
Baca Juga: Efek El Nino, Kenaikan Harga Beras Dorong Inflasi DIY September 2026
Apabila diperlukan, pemeriksaan status gizi dilakukan sesuai dengan zat gizi dan kondisi yang hendak dinilai.
Menurut Ade, pemeriksaan dapat melibatkan sampel darah, plasma, urine, atau metode lain berdasarkan pertimbangan tenaga kesehatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 15 Fakta Penting Demo 2 Tahun Prabowo Gibran di Jogja, Berakhir Rusuh, Massa Duduki DPRD hingga Malam
- 2Muhammadiyah Desak Hukum Tegas Pelaku Karhutla Tanpa Pandang Bulu
- 3Jogja Makin Panas Menyengat! BMKG Ungkap Arti Grafik 'Warming Stripes' dan Pemicunya
- 4Dikira Santri, Ini 5 Fakta Menarik Dosen FISIP UGM Media Wahyudi Askar
- 5Hasil BRI Super League: Kalah 5 Laga Beruntun, PSIM Ingin Bangkit di Laga Berikut
- 6Yashinta: Ekonomi Kreatif DIY Terhambat Perda
- 7Waspada! Satu dari 5 Anak Indonesia Alami Obesitas, Dosen UMY Ungkap Penyebabnya
- 8Profil Razzi Taruna, Mantan Manajer PSIM yang Kini jadi Direktur Olahraga Persik
- 9Apa Itu Beras Fortifikasi? Dosen UMY Jelaskan Pengertian dan Dampaknya jika Tak Sesuai Kandungan
- 10Buang Sampah di Sungai, Warga Kota Jogja Bakal Kena Sanksi









