Produksi Ikan Terbesar tapi Tingkat Konsumsi Rendah, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Ungkap Penyebabnya

Akurat.co,Jogja-Daerah Gunungkidul menjadi wilayah dengan produksi ikan terbesar. Tapi konsumsi ikan masyarakatnya masih tergolong rendah.
Fakta tersebut membuat Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih berpikir keras mencari penyebabnya.
“Saya berpikir dan merenung, kenapa kita penghasil ikan tapi konsumsi ikannya kecil?," katanya.
Bupati mengungkap, masyarakat Gunungkidul sejauh ini hanya mengandalkan menu ayam atau daging dalam kegiatan sosial. Menu ikan belum dijadikan kebiasaan.
Endah membandingkan budaya makan ikan masyarakat Jepang. Kata dia, kalau masyarakat Jepang bisa makan ikan setiap hari dan cerdas, kenapa kita tidak bisa?
"Ini PR kita bersama bagaimana membuat gerakan makan ikan menjadi kesadaran penuh masyarakat,” lanjutnya.
Endah pun mengemukakan bila perlu membuat surat edaran bupati agar setiap kegiatan yang dibiayai pemerintah daerah dan disajikan secara prasmanan wajib memiliki menu ikan.
Politisi PDIP ini juga menambahkan, salah satu tantangan yang perlu dijawab adalah memperluas akses ikan segar bagi masyarakat.
Ia menilai, ke depan perlu dipikirkan keberadaan fish market di pusat kota agar masyarakat semakin mudah mendapatkan ikan berkualitas.
“Betapa bangganya kalau warga Gunungkidul gemar makan ikan dan anak-anak kita terhindar dari stunting,” kata Bupati.
Bikin acara lomba masak ikan
Salah satu cara membudayakan gemar makan ikan dilakukan Pemkab Kabupaten Gunungkidul.
Seperti yang dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan menggelar lomba masak ikan antar Kapanewon se-Kabupaten Gunungkidul sekaligus Pameran Produk Perikanan di Bangsal Sewokopeojo, Wonosari, Selasa (14/10/2025).
Kegiatan ini menjadi wadah kreatif bagi masyarakat dalam mengolah ikan laut maupun ikan air tawar.
Baca Juga: Mendagri Ajak Pemda Optimalkan Potensi Ekonomi Daerah
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Johan Wijayanto, menjelaskan bahwa lomba ini mengusung tema “Kreasi Olahan Ikan untuk Generasi Emas Bumi Handayani.”
Tujuan utama kegiatan ini, menurut Johan, adalah memperkenalkan beragam olahan ikan kepada masyarakat, meningkatkan angka konsumsi ikan, dan mendukung program penurunan stunting.
“Angka konsumsi ikan kita saat ini 32,4 kilogram per kapita per tahun, masih di bawah rata-rata DIY yang mencapai 36 kilogram, namun lebih tinggi dibanding Kulon Progo dan Bantul,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sukses Jual 1.000 Unit V23, iCAR Hadir di Sleman Yogyakarta
- 2Keren, Rasio Ketersediaan Darah PMI Kota Jogja Tertinggi se-Indonesia
- 3Penumpang KA Jarak Jauh Daop 6 Yogyakarta Tembus 10,5 Juta
- 4Diva Maulana hingga Oscar Prasetyo Berjaya di Kraton Cup XXVIII 2026
- 5Batas Kelurahan Sleman Tuntas 100%, Sejarah Baru Bagi DIY?
- 6Senator DIY Syauqi Soeratno Harapkan PSIM Bisa Berkandang di Mandala Krida Musim Depan
- 7Pelajar Kota Jogja Beradu Kreativitas dan Imajinasi melalui Mural
- 8TKD DIY Anjlok Drastis, Dana Desa 2026 Dipangkas 74 Persen!
- 9Batas Kelurahan Sleman Tuntas 100%, Sejarah Baru Bagi DIY?
- 10Pelajar Kota Jogja Beradu Kreativitas dan Imajinasi melalui Mural









