Jogja

Kasus Gigitan Ular RI Capai 8 Ribu, 25 Kasus Meninggal, Pakar UGM Dorong Pengembangan Serum Antibisa Modern

Yudi Permana | 17 November 2025, 12:05 WIB
Kasus Gigitan Ular RI Capai 8 Ribu, 25 Kasus Meninggal, Pakar UGM Dorong Pengembangan Serum Antibisa Modern

Akurat.co,Jogja-Data menunjukkan hingga Oktober 2025, kasus gigitan ular di Indonesia mencapai 8.721 dengan 25 kematian.

Banyaknya kasus tak lepas dari keberadaan Indonesia sebagai negara dengan spesies ular terbanyak ketiga di dunia, yakni 376 spesies.

Fakta tersebut membuat pakar Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc mengungkap pentingnya pengembangan serum bisa modern.

Disebutkan saat ini hadir terobosan antibodi llama dan alpaka yang dinilai mampu membantu penanganan medis.

Baca Juga: Belajar Longsor Cilacap, Guru Besar UGM Sebut Retakan 'Tapal Kuda' Bisa Jadi Pertanda

Inovasi ini selaras dengan riset dalam negeri yang mulai mengembangkan serum antibisa modern serta karakterisasi bisa ular lokal untuk memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi ancaman kasus gigitan ular.

Ia menjelaskan bahwa kemajuan riset tersebut menunjukkan kemampuan peneliti dalam memanfaatkan organisme, termasuk hewan, sebagai sumber solusi kesehatan.

Ia menilai antibodi pada llama dan alpaka terbukti efektif membantu penyembuhan korban gigitan ular berbisa.

“Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kecelakaan akibat gigitan ular bukan lagi neglected disease, karena semakin banyak peneliti peduli dan mengembangkan antibisa dengan efektivitas tinggi,” paparnya dilansir dari laman resmi UGM, Senin (17/11/2025).

Meski demikian, Donan menyebut bahwa pengembangan serum antibisa di Indonesia masih belum signifikan.

Baca Juga: Tak Naikkan Cukai Rokok, Akademisi UGM Sebut Pemerintah Jalankan Kebijakan Jangka Pendek untuk Stabilitas Sosial

Perkembangan baru terlihat tiga tahun terakhir melalui inisiatif penelitian dari BRIN, Kementerian Kesehatan, dan berbagai perguruan tinggi.

Indonesia hingga kini hanya memiliki satu tipe serum antibisa polivalen, sehingga dibutuhkan pengembangan serum yang dapat menangani gigitan berbagai spesies ular berbisa.

Di UGM, Donan menyebut adanya tim Venom Research Group yang terdiri dari dosen lintas fakultas dan telah menyelesaikan penelitian karakterisasi bisa (profiling venom) pada ular kobra jawa (Naja sputatrix).

“Penelitian tersebut sudah selesai dan akan dilanjutkan dengan spesies ular berbisa lainnya,” ungkapnya.

Tantangan lain dalam pengembangan serum antibisa muncul dari kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Setiap wilayah memiliki spesifikasi ular berbisa yang berbeda, sehingga sulit menentukan komposisi serum yang cocok untuk seluruh daerah.

Selain itu, fasilitas snake farm yang belum memenuhi standar internasional menyulitkan ketersediaan venom yang stabil untuk kebutuhan penelitian.

Dalam penanganan kasus gigitan ular berbisa, Donan menekankan pentingnya langkah imobilisasi untuk membatasi pergerakan area tubuh yang terkena gigitan.

Baca Juga: LKBN ANTARA gelar Workshop Fotografi Jurnalistik di UGM

Ia menambahkan bahwa metode bantalan tekan dapat diterapkan sebagai pertolongan awal pada kondisi darurat.

Menurutnya, menenangkan korban juga menjadi bagian penting agar racun tidak menyebar lebih cepat di dalam tubuh.

“Setelah itu korban bisa segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan,” jelasnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.